Sabtu, 10 Desember 2011

Tanda-tanda kenabian


 
Bismillahirrahmanirrahim

Suatu hari, kami membeli sejenis makanan tertentu dari pedagang kaki lima di bilangan Tugu Monas, Jakarta. Sambil menunggu makanan disiapkan, iseng-iseng kami bertanya tentang asal-usul si pedagang itu. Dengan logat Madura yang kental, spontan ia menjawab, “Sayya dari Sollo, dhik!” Kami semua tertawa.

Terasa lucu saja, karena ada orang Solo yang sangat kuat aksen Maduranya, tanpa bisa ditutupi. Kami tidak tahu, apakah ia berbohong atau menjawab sekenanya, karena kami pun sebetulnya tidak ambil pusing ia berasal dari mana. Akan tetapi, syaraf humor kami – sekitar lima orang – rupanya bisa merasakan kelucuan itu tanpa dikomando. Kami tahu ada yang tidak cocok, antara logat bicara orang itu dengan pengakuan asal daerahnya.
Sekarang, mari kita tinggalkan pedagang kaki lima yang lucu itu dan beralih ke topik “tanda-tanda kenabian”. Apakah ada hubungannya?
Sebenarnya, setiap perkara memiliki penanda, yang dengannya kita bisa mengenali dan membedakan dari selainnya. Seperti cerita diatas, logat orang Solo dengan orang Madura jelas berlainan, dan karenanya kita mengerti bahwa ada yang aneh disana. Berkat pengenalan tersebut, jika saja persoalannya lebih serius, kita tidak akan mudah tertipu. Sama halnya dengan kenabian. Ia adalah perkara khusus yang memiliki tanda-tandanya sendiri. Kenabian jauh berbeda dengan prediksi peramal, sihir tukang tenung, sulap magician, jampi-jampi dukun, hikmah sastrawan dan orang bijak, atau teori filosof. Inilah yang membuat kaum kafir kebingungan. Al-Qur’an merekam bagaimana mereka berdebat diantara sesamanya, sekedar menemukan padanan yang tepat dari jatidiri seorang utusan Allah (misal, Qs. Al-Anbiya’: 5; al-Haqqah: 40-43; ash-Shaffat: 35-36; ad-Dukhan: 14; adz-Dzariyat: 39). Tapi, mereka gagal dan disesatkan oleh angan-angannya sendiri (Qs. Al-Isra’: 48).
Dewasa ini, diantara musibah yang memperberat beban kaum muslimin adalah tampilnya figur-figur yang – secara terbuka – mengaku-aku sebagai nabi. Orang-orang ini, silih berganti muncul. Satu belum tuntas kehebohannya, tiba-tiba mencuat yang baru dengan klaim serupa. Anehnya, selalu saja ada yang mau menjadi pengikut dan pendukungnya. Kok bisa?
Masalahnya, sebagian besar mereka tidak tahu-menahu bahwa kenabian pun memiliki tanda-tandanya yang khas. Tanda-tanda inilah yang memilah kenabian dari perdukunan, ramalan, magic, intelektualitas, dan filsafat. Akan tetapi, ternyata diantara orang-orang yang mengaku sebagai nabi di zaman sekarang, sebenarnya kebanyakan lebih tepat disebut dukun, penganut ilmu hitam atau orang yang kesurupan jin (majnun).
Oleh karenanya, para ulama’ dulu banyak menulis karya bertema “tanda-tanda kenabian”. Mungkin kita bertanya, buat apa mereka sibuk mencatat informasi semacam itu, toh kenabian telah berakhir? Sekilas, mereka seolah-olah menuliskan perkara tak berguna; seperti tabib kuno yang memberikan resep kadaluwarsa. Jenis karya semacam ini cukup banyak, misalnya A’lamu an-Nubuwwah karya Abul Hasan al-Mawardi (w. 456 H), atau empat kitab yang sama-sama berjudul Dala’ilu an-Nubuwwah karya Abu Bakr al-Firyabi (w. 301 H), Abu Nu’aim al-Ashbahani (w. 430 H), Abu Bakr al-Baihaqi (w. 458 H), dan Abul Qasim al-Ashbahani (w. 535 H). Kedua judul ini sama-sama berarti “tanda-tanda kenabian”.
Namun, setelah 14 abad lebih berselang dari kenabian terakhir, sesungguhnya karya-karya itu kembali menemukan relevansi dan momentumnya. Sebab, dewasa ini betapa sering kita mendengar orang-orang yang mengaku nabi, dan menyebarkan aneka ajaran yang – katanya – diwahyukan dari langit.
Hampir semua “nabi” itu mendasarkan klaimnya dari mimpi-mimpi, dan secara terbuka menyebutnya sebagai wahyu, wangsit, bisikan langit, atau apapun lainnya. Padahal, Rasulullah pernah bersabda, “Mimpi yang baik adalah satu dari 46 bagian kenabian.” (Riwayat Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah, Anas bin Malik, dll.). Dengan kata lain, sekedar mimpi tidak akan pernah cukup untuk mendukung pengakuan kenabian. Sebab, masih tersisa 45 pertanda lain yang seharusnya bisa kita minta dan tuntut, sebagai bukti kebenaran dirinya. Bahkan, dalam salah satu riwayat Imam Muslim, terdapat tidak kurang dari 70 tanda kenabian. Jika ingin bukti, tantanglah orang-orang yang mengaku Nabi itu untuk memenuhi sepuluh saja diantaranya, dan saksikan mereka bertekuk-lutut, terbongkar tuntas kebohongannya!
Di sisi lain, Rasulullah juga bersabda, “Mimpi itu ada tiga macam. (Pertama), mimpi yang baik, yaitu kabar gembira dari Allah. (Kedua), mimpi pembangkit kesedihan, maka ia bersumber dari syetan. (Ketiga), mimpi yang merupakan bagian dari percakapan seseorang dengan dirinya sendiri.” (Riwayat Muslim, dari Abu Hurairah).
Bisa jadi seseorang telah lama menginginkan dirinya dipuja dan berpengaruh. Keinginan ini begitu kuat menguasai pikiran serta perasaannya. Lalu, syetan datang membisik-bisikkan godaan. Inilah yang disebut dengan “percakapan seseorang dengan dirinya sendiri” oleh Rasulullah, atau “percakapan imajiner”. Mimpinya itu sebenarnya bukan dari Allah, tetapi bagian dari ambisinya sendiri, yang kebetulan mengambil bentuk “kenabian”. Syetan hanya menunggangi, sebab pada dasarnya orang itu sendiri yang menginginkannya. Na’udzul billah.
Hakikat inilah yang disadari dengan baik oleh para ulama’, sehingga dalam al-‘Aqidah ath-Thahawiyah dinyatakan, “Seluruh klaim kenabian setelah beliau (Nabi Muhammad) adalah sesat dan (didasari) hawa nafsu belaka.”
Jadi, kenalilah segala sesuatu dengan benar, agar Anda tidak tertipu oleh orang-orang yang berhati culas dan ambisius; yang tega memanfaatkan keluguan dan kejahilan Anda demi kepentingan nafsu mereka sendiri.
Wallahu a’lam.

[*] M. Alimin Mukhtar, 27 Ramadhan 1431 H. Pernah dipublikasikan dalam Lembar Tausiyah, BMH Malang.