Kamis, 16 Februari 2012

Terjemah kitab "al-Ikhwan" karya Ibnu Abi Dunia (kutipan)


 
Bismillahirrahmanirrahim
[ 1 ]

RIWAYAT SEPUTAR ORANG-ORANG YANG SALING MENCINTAI KARENA ALLAH DAN KEDUDUKAN MEREKA YANG MULIA DI SISI-NYA
1 ― Al-Bara' bin 'Azib radhiyallahu 'anhu berkata, "Saya duduk di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau kemudian bersabda, 'Tahukah kalian apakah ikatan iman yang paling kuat?' Kami menjawab, 'Shalat.' Beliau menanggapi, 'Shalat itu bagus, tetapi bukan itu jawabannya.' Maka para sahabat kemudian menyebutkan syari'at-syari'at Islam yang lain. Tatkala beliau melihat bahwa mereka tidak ada yang menjawab dengan tepat, beliau kemudian bersabda, 'Ikatan iman yang paling kuat adalah mencintai karena Allah dan membenci karena Allah 'azza wa jalla.'
2 ― Dari al-'Irbadh bin Sariyah radhiyallahu 'anhu: dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, "Allah ta'ala berfirman, 'Orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku akan berada di bawah naungan 'Arsy-Ku pada hari dimana tiada naungan selain naungan-Ku.'"
3 ― Mu'adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu berkata, "Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, 'Orang-orang yang saling mencintai karena keagungan Allah 'azza wa jalla akan berada di bawah naungan 'Arsy-Nya pada hari dimana tiada naungan selain naungan-Nya.'"
4 ― Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Allah ta'ala berfirman, 'Dimanakah orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku? Pada hari ini aku naungi mereka dengan naungan-Ku pada hari dimana tiada naungan selain naungan-Ku.'"
5 ― Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata, "Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, 'Sesungguhnya diantara hamba Allah ada orang-orang yang mana para Nabi dan syuhada' pun iri kepada mereka.' Ada yang menanyakan, 'Siapakah mereka, semoga saja kami bisa mencintai mereka?' Beliau kemudian menjawab, 'Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai dengan ruh Allah, bukan didasarkan harta atau nasab. Wajah-wajah mereka bagaikan cahaya. Mereka (ditempatkan) diatas mimbar-mimbar dari cahaya. Mereka tidak merasa takut ketika semua orang ketakutan, dan mereka tidak merasa sedih ketika semua orang bersedih.' Beliau kemudian membaca ayat, "Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati" (QS Yunus: 62)."
6 ― Dari Abu Malik al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu: bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menghadapkan wajahnya kepada semua orang kemudian bersabda, "Wahai manusia, dengarkan, pahami dan ketahuilah! Sesungguhnya Allah 'azza wa jalla mempunyai hamba-hamba yang bukan dari golongan para Nabi maupun syuhada', namun majelis dan kedekatan mereka kepada Allah membuat para Nabi dan syuhada' merasa iri." Ada seorang Arab dusun yang berkata, "Wahai Rasulullah, sifati mereka itu untuk kami! Jelaskan siapa mereka kepada kami!" Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun tersenyum mendengar kata-kata orang Arab dusun itu. Beliau kemudian melanjutkan sabdanya, "Mereka adalah orang-orang yang berasal dari kalangan berlainan dan suku yang saling berjauhan, tidak ada pertalian darah yang berdekatan diantara mereka, tetapi mereka saling mencintai karena Allah 'azza wa jalla dan berada dalam satu barisan yang rapat. Allah membuatkan mimbar-mimbar dari cahaya untuk tempat duduk mereka, lalu menjadikan wajah mereka bagaikan cahaya, dan pakaian mereka pun bagaikan cahaya. Semua orang ketakutan di hari kiamat, tetapi mereka tidak. Mereka adalah para wali Allah, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati."
7 ― Mu'adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu berkata, "Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, 'Pada hari kiamat kelak, orang-orang yang saling mencintai karena Allah 'azza wa jalla (akan didudukkan) diatas mimbar-mimbar di bawah naungan 'Arsy, pada hari dimana tiada naungan selain naungan-Nya, diatas mimbar-mimbar dari cahaya, para Nabi dan syuhada' pun merasa iri kepada mereka.'"
8 ― 'Amr bin 'Abasah radhiyallahu 'anhu berkata, "Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, 'Kecintaanku adalah wajib bagi orang-orang yang saling mencintai karena aku, dan kecintaanku adalah hak bagi orang-orang yang saling berteman karena aku.'"
9 ― Dari 'Ubadah bin ash-Shamit radhiyallahu 'anhu berkata, "Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meriwayatkan firman Allah ta'ala (yakni: hadits qudsi), bahwa Dia berfirman, 'Kecintaan-Ku adalah hak bagi orang-orang yang saling mencintai. Mereka berada di bawah naungan 'Arsy pada hari kiamat, dimana tiada naungan selain naungan-Ku.'"
10 ― Dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Orang-orang yang saling mencintai karena Allah 'azza wa jalla (berada) diatas pilar-pilar dari yaqut merah. Diatas setiap pilar terdapat seratus ribu kamar. Kamar-kamar itu menyinari para penghuni surga sebagaimana matahari menyinari penghuni bumi. Pada jidat-jidat mereka tertulis: 'Itulah orang-orang yang saling mencintai karena Allah'."
***Yaqut merupakan salah satu jenis batu permata. [pen]
11 ― Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Sesungguhnya di surga terdapat pilar-pilar dari emas, yang diatasnya ada kota-kota dari zabarjad yang menyinari para penghuni surga sebagaimana bintang yang sangat terang cahayanya di angkasa raya." Kami bertanya, "Wahai Rasulullah, milik siapakah kota-kota itu?" Beliau menjawab, "Milik orang-orang yang saling mencintai karena Allah."
***Zabarjad adalah sejenis batu permata, seperti zamrud. [pen]
12 ― Dari Abu Sa'id radhiyallahu 'anhu: dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, "Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang (ditempatkan) diatas mimbar-mimbar dari cahaya di bawah naungan 'Arsy pada Hari Kiamat kelak, dimana para nabi dan syuhada' pun merasa cemburu dan iri kepada mereka. Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah ta'ala."
13 ― 'Abdurrahman bin Sabith berkata, "Aku diberitahu bahwa di sebelah kanan Dzat yang Maha Pengasih ― dan kedua tangan-Nya adalah kanan ― terdapat suatu kaum yang (ditempatkan) diatas mimbar-mimbar dari cahaya, mereka mengenakan pakaian-pakaian berwarna hijau, yang menyilaukan pandangan orang-orang yang melihat ke arah mereka. Mereka bukan para nabi dan bukan pula para syuhada'." Ada yang bertanya, "Siapa mereka itu?" Beliau menjawab, "Orang-orang yang saling mencintai karena keagungan Allah, pada saat Allah didurhakai (oleh orang-orang lainnya)."
14 ― Ibnu Fudhail menceritakan: ayahnya (al-Fudhail bin 'Iyadh) berkata: aku berjumpa dengan Abu Ishaq setelah mata beliau menjadi buta, maka beliau pun memelukku. Aku bertanya, "Apakah Anda mengenali saya?" Beliau menjawab, "Ya, demi Allah, sungguh aku dapat mengenalimu, dan sungguh aku mencintaimu. Andai bukan karena malu, sungguh aku akan menciummu. Engkau tahu, tentang siapakah ayat ini diturunkan? Abu al-Ahwash menceritakan kepadaku: 'Abdullah (bin Mas'ud) radhiyallahu 'anhu berkata, "Tentang orang-orang yang saling mencintai karena Allah ta'ala." Yakni, QS al-Anfal:63, "...walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana."
15 ― 'Abdullah (bin Mas'ud) radhiyallahu 'anhu berkata, "Sesungguhnya sebagian dari iman adalah bila seseorang mencintai orang lain yang tidak ada ikatan nasab yang dekat diantara mereka, tidak ada pula materi yang bisa dia berikan kepadanya, dan ia tidak mencintainya kecuali karena Allah ta'ala semata."
16 ― Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, dan beliau me-rafa'-kannya (kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam), "Ada tiga perkara, barangsiapa yang dalam dirinya terdapat ketiganya maka ia akan mendapati kemanisan dan citarasa iman. Ketiganya adalah: bila Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dibanding selain kedua-Nya; bila ia mencintai karena Allah dan membenci pun karena Allah juga; dan seumpama dinyalakan api yang sangat besar, andaikata ia harus menceburkan diri ke dalamnya maka hal itu lebih ia sukai dibanding menyekutukan Allah."
17 ― Abu Umamah radhiyallahu 'anhu berkata, "Barangsiapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah, dan menahan (pemberiannya) karena Allah, maka dia telah menyempurnakan imannya."
18 ― Zujlah berkata: kami pernah duduk bersama Umm ad-Darda', maka Hisyam bin Isma'il berkata kepada beliau, "Wahai Umm ad-Darda', amal apakah yang paling Anda andalkan?" Beliau menjawab, "Mencintai karena Allah."
19 ― Tsabit al-Bunani berkata, "Kami sedang berwukuf di Jabal 'Arafah, ketika ada dua orang pemuda ― mereka berdua mengenakan mantel luar berbahan kapas (katun) ―  yang salah satunya memanggil saudaranya, "Hai, sayang." Satunya menjawab, "Ya, sayangku." Yang satunya berkata lagi, "Menurutmu, apakah Dia yang mana kita saling mencintai dan menyayangi satu sama lain semata-mata karena Dia, akan menyiksa kita di Hari Kiamat nanti?" Tsabit melanjutkan ceritanya, "Maka, kami mendengar suatu seruan; telinga dapat mendengar (suaranya) namun mata tidak dapat melihat (orangnya); (suara itu berkata), 'Tidak! Dia tidak akan melakukannya.'"
20 ― Dari Abu Umamah radhiyallahu 'anhu: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Tidaklah seorang hamba mencintai hamba yang lain, kecuali Allah akan memuliakannya."
21 ― Al-'Awam bin Hausyab berkata, "Aku berjumpa dengan Qatadah, lalu aku katakan kepada beliau, 'Apakah aku harus mencintai karena Allah?' Beliau menjawab, "(Ya), sebab hanya (dengan itu) engkau akan mencintai Rabb-mu."
22 ― Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata, "Cintailah karena Allah, bencilah karena Allah, setia dan loyallah karena Allah, musuhilah karena Allah, sebab hanya dengan itulah kalian akan memperoleh dukungan dari Allah. Seorang hamba tidak akan mendapati citarasa iman sampai ia bisa melakukan yang seperti itu, walaupun ia banyak mengerjakan shalat dan puasa."
23 ― Qatadah berkata, "Wajah-wajah orang yang saling mencintai (adalah bagaikan) terbuat dari cahaya."


[*] Naskah ini merupakan kutipan bab pertama saja, dari kitab al-Ikhwan karya al-Hafizh Ibnu Abu Dunia. Kami baru sempat menerjemahkan beberapa bab awal. Semoga Allah mengaruniakan kesempatan untuk menyempurnakannya. Amin.



Jumat, 03 Februari 2012

Tanpa pernah diberitahu apakah dia seorang baik-baik dan jujur

 
Dr. Alija Ali Izetbegovic, mantan presiden Republik Muslim Bosnia-Herzegovina, secara tajam pernah mengkritik sifat-sifat pendidikan modern yang terlalu intelektual dan kurang manusiawi. Beliau menulis, sbb: 

“Pendidikan sekolah di dunia beradab terlalu bersifat intelektual dan kurang manusiawi. Jika kita memakai istilah yang biasa, kita dapat mengatakan pendidikan sekolah terlalu teknologis dan tidak cukup klasik. Saat ini sangatlah mungkin membayangkan seorang anak muda yang telah lulus dari semua jenjang pendidikan, sejak sekolah dasar sampai perguruan tinggi, tanpa pernah diberitahu apakah dia seorang baik-baik dan jujur. Pertama dia belajar bagaimana menulis dan menghafal, kemudian belajar fisika, kimia, etnologi, geografi, teori-teori politik, sosiologi, dan ilmu-ilmu lain. Dia mengumpulkan sejumlah besar fakta, atau paling jauh belajar bagaimana berpikir. Tetapi dia tak tercerahkan. Kita semakin jarang mendengar tentang sejarah, seni, sastra, etika, dan hukum … Pendidikan jenis ini menyiapkan seorang anggota masyarakat, dan semua aspeknya ditentukan oleh ukuran ini. Pendidikan ini diarahkan kepada tujuan yang pasti dan tertarik untuk menguasai alam, dunia luar. Pendidikan klasik, sebaliknya, bermula dan berakhir pada manusia … Dilemanya: pendidikan teknologis dan pendidikan klasik adalah masalah ideologis, bukan masalah teknis. Sebuah filsafat berada di balik keduanya ... pendidikan bersifat fungsional, yaitu melayani sistem; kecenderungan ini sudah sangat meluas, meski ada berbagai pernyataan indah mengenai “banyak sisi dari kemajuan kepribadian manusia”, “tentang sifat manusiawi pendidikan”, dan lain-lain … [Tentu, sekolah tinggi dewasa ini disesuaikan dengan kebutuhan-kebutuhan sistem industrial … Kedudukan tinggi yang dinikmati oleh matematika dan ilmu murni maupun terapan mencerminkan kebutuhan-kebutuhan teknostruktur … Sedang penghargaan yang kurang terhadap seni dan ilmu-ilmu kemanusiaan memperlihatkan bahwa mereka kurang penting … Sekolah teknik dan bisnis sangat dihargai karena sifat kegunaannya. Sistem industrial telah sangat mendorong perkembangan pendidikan. Kita bisa saja mendukung hal ini. Tetapi jika kecenderungan-kecenderungan itu tak diperhatikan dan dilawan, sistem pendidikan ini hanya akan menstimulasi aspek emosional yang paling-paling hanya memenuhi kebutuhan sendiri dan yang terburuk adalah tak ada lagi pertanyaan mengenai tujuan-tujuan pendidikan]. Tetapi apa sifat pendidikan secara umum? Sifat itu adalah selektivitas ketat yang menyebabkan persaingan yang destruktif, sebuah bahasa “spesialistis” semu yang dikembangkan oleh hampir semua disiplin ilmu; dan aristektur fungsional bangunan-bangunan sekolah yang disesuaikan hanya terhadap standar kegunaan dan kesehatan. Hal itu dikarenakan sekolah melayani birokrasi penguasa atau sistem industrial yang ada; mempersiapkan ahli yang akan melayani dan selanjutnya mengembangkan kedua mekanisme tersebut. Imbauan-imbauan mengenai sekolah-sekolah humaniora, yang terdengar sayup-sayup disana-sini, tetap tinggal kata-kata muluk sampai saat ini.”

(*) dikutip dari buku Membangun Jalan Tengah, hal. 76-79; penerbit Mizan, Bandung. Komentar yang berada di tengah paragraf, yang ditandai dengan kurung siku, adalah kutipan Izetbegovic dari The New Industrial State, hal. 339-341, karya J.K. Galbraith, seorang ahli teori ekonomi terkenal dan satu-satunya pengamat terbaik mengenai sistem industrial.