Rabu, 14 September 2011

Ilmu Maw'izhah - Al-Mabadi' Al-'Asyrah (7)


Bismillahrrahmanirrahim
 
ILMU MAU’IZHAH

Definisi. Ilmu yang dengannya bisa diketahui hal-hal yang dapat menyebabkan seseorang menahan diri dari sesuatu yang terlarang serta terdorong untuk bangkit mengerjakan sesuatu yang diperintahkan. Secara sederhana, ilmu ini menguraikan tentang seni memotivasi dan menegur orang.
Sumber bahan kajian. Bahan yang dipergunakan adalah riwayat-riwayat hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, kisah-kisah ahli ibadah, para zahid (orang yang zuhud), dan orang-orang shalih; termasuk dalam jenis ini adalah kisah orang-orang jahat dan ahli maksiat yang amalnya buruk serta rusak kehidupannya.
Dalam al-Muntakhab, Ibnu al-Jauzi berkata, “Ingat, penyampaian nasihat sangat dianjurkan oleh Allah, yakni dalam firman-Nya, Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman” (QS adz-Dzariyat: 55), dan juga sabda Rasulullah kepada para pejabat yang beliau tunjuk, “Perhatikan dan rawatlah manusia dengan peringatan”. Karena penyakit-penyakit hati pun membutuhkan obat, sebagaimana penyakit-penyakit fisik memerlukan terapi, maka ditulislah buku-buku yang menguraikan ushul (pokok) dan furu’ (cabang) dari ilmu ini. Generasi salaf sendiri mencukupkan diri dengan nasihat yang ringkas, tanpa kalimat yang diindah-indahkan maupun pembicaraan yang dihias sedemikian rupa. Siapapun yang merenungkan nasihat-nasihat yang diberikan oleh al-Husain bin ‘Ali radhiya-llahu ‘anhuma, atau selainnya, tentu memahami apa yang saya maksudkan disini.”
Selanjutnya, beliau menulis, “Apa yang saya kutip dari para ulama’ tersebut, yang berupa pemilihan kata-kata indah atau nasihat yang berirama tertentu, semuanya tidak keluar dari batasan jawaz (diizinkan menurut syari’at). Semua itu kurang lebih serupa dengan pengumpulan al-Qur’an yang dimulai oleh Abu Bakr, dan dilanjutkan kembali oleh ‘Utsman; atau kebijakan ‘Umar untuk mengumpulkan kaum muslimin di belakang satu qurra’ di saat mengerjakan qiyam Ramadhan, dan juga izin yang beliau berikan kepada Tamim ad-Dariy untuk menuturkan kisah-kisah. Tindakan seperti ini tidak bisa dicela, sebab apa yang dikreasikan tersebut tidak keluar dari batasan yang diizinkan oleh syari’at. Al-Hasan [al-Bashri] berkata, ‘(Menuturkan) kisah-kisah itu memang bid’ah, (akan tetapi) betapa banyak orang yang bisa mengambil manfaat darinya, dan betapa banyak seruan yang bisa diterima.’”
Syekh Waliyyullah ad-Dahlawi menulis dalam kitabnya, al-Qaul al-Jamil fi Bayani Sawaa’i as-Sabil, dalam pasal tentang Adab Menasihati dan juga bagi Pemberi Nasihat, “Allah berfirman kepada Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, ‘Berilah peringatan, karena engkau ini hanyalah pemberi peringatan’ (QS al-A’la: 21). Allah juga berfirman kepada Musa kaliimullaah ‘alaihis salam, ‘Dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah (yakni, sejarah umat yang silam).’ (QS Ibrahim: 5) Maka, memberi peringatan adalah pilar yang sangat penting (dalam agama). Untuk itu, mari kita bahas sifat seorang pemberi peringatan, cara memberi peringatan, tujuan yang ingin dicapai, ilmu mana yang menjadi sumber pengambilan bahannya, apa komponen utamanya, adab para pendengarnya, dan juga berbagai kesalahan fatal yang diidap oleh para pemberi peringatan di zaman kita sekarang.”
[Untuk diketahui, bagian selanjutnya adalah kutipan dari Syekh Waliyullah ad-Dahlawi, dengan penyesuaian seperlunya].
Pemberi nasihat (mudzakkir). Seharusnya dia adalah sosok yang mukallaf dan ‘adil, sebagaimana yang dipersyaratkan oleh para ulama’ terhadap para perawi hadits dan saksi. Selain itu, dia juga mesti ahli hadits (muhaddits), ahli tafsir (mufassir), serta mengetahui sejumlah besar kisah dan riwayat hidup generasi salaf yang shalih. Yang kami maksud dengan ‘ahli hadits’ adalah mereka yang banyak menelaah kitab-kitab hadits, dimana dia bisa membaca lafazhnya dan memahami maknanya, mengerti mana yang shahih dan yang cacat meskipun melalui kajian dari seorang hafizh atau penelitian oleh seorang faqih yang lain. Demikian pula yang kami maksud dengan ‘ahli tafsir’ adalah orang yang banyak mengkaji penjelasan mengenai kata-kata yang gharib (asing) dari Al-Qur’an, arah yang tepat dalam memahami apa yang musykil (sukar dimengerti) di dalamnya, juga riwayat dari generasi salaf yang terdapat dalam kitab-kitab tafsir mereka. Selain itu, sudah selayaknya dia adalah pribadi yang cakap dan cerdik dalam berbicara (fashih), dimana dia bisa berbicara sesuai kadar pemahaman para pendengarnya. Seyogyanya dia juga seseorang yang lembut, terpandang dan dikenal bersih kehidupannya.
Cara memberi peringatan. Jangan terlalu sering menyampaikan nasihat dan peringatan. Hindari berbicara ketika para pendengar terlihat jenuh dan bosan. Sebaliknya, mulailah berbicara ketika mereka sedang bergairah dan hentikan ketika mereka masih ingin diteruskan. Duduklah di tempat yang mudah dilihat semua orang yang hadir, seperti masjid. Mulai pembicaraan dengan hamdalah dan shalawat, demikian pula ketika menutupnya. Panjatkan doa untuk seluruh kaum muslimin pada umumnya, dan khususnya para hadirin. Jangan mengkhususkan tema pembicaraan pada masalah targhib (motivasi) dan tarhib (ancaman) saja, namun campurkan di dalamnya dari berbagai tema yang relevan, sebagaimana kebiasaan Allah yang suka mengiringkan ancaman setelah janji, atau peringatan setelah kabar gembira. Permudahlah, dan jangan mempersulit. Arahkan pembicaraan kepada semua pendengar, bukan untuk sebagian saja dari mereka. Jangan menyebut secara langsung kelompok atau pribadi yang hendak ditegur, akan tetapi gunakan kalimat sindiran, misalnya, “Mengapa orang-orang ini melakuan begini begitu.” Jangan mengungkapkan hal-hal yang murahan dan tidak relevan. Katakan yang baik itu baik dan yang buruk itu buruk. Tegakkan amar ma’ruf nahi munkar, dan jangan menjadi imma’ah (plin-plan, tidak punya pendirian). Ulangi kata-kata yang penting tiga kali, untuk memberi penekanan. Jika di majelis tersebut ada pendengar yang berbicara dengan bahasa berbeda, sementara sang pemberi peringatan mampu berbicara dalam bahasa itu, bisa juga diselingi dengan penggunaan istilah dalam bahasa mereka. Hindari uraian yang terlalu rinci, atau sebaliknya terlalu umum.
Tujuan yang ingin dicapai. Hendaknya seorang pemberi peringatan menengok dirinya sendiri terlebih dahulu. Wujudkanlah kepribadian seorang muslim sejati semaksimal mungkin, yaitu dalam amal perbuatan, perkataan, akhlaq, dan isi hati. Jangan lupa untuk kontinyu berdzikir. Setelah itu, tularkan watak tersebut secara utuh kepada para pendengar dengan bertahap, sesuai tingkat pemahamannya. Pertama, perintahkan mereka untuk mengerjakan amal-amal kebajikan yang paling utama dan menghindari keburukan yang paling rendah, terutama dalam berpakaian, dandanan, tatacara shalat, dan lain-lain. Jika mereka telah terbiasa dengan semua itu, maka suruhlah mereka untuk melazimkan dzikir dalam kesehariannya. Jika dzikir telah membekas dalam diri mereka, doronglah untuk mulai mengendalikan lisan dan hatinya. Untuk menanamkan kesan ini, seorang pemberi peringatan dapat menuturkan ayyamullah (hari-hari Allah), yaitu kisah-kisah umat terdahulu, dimana di dalamnya tercermin betapa hebatnya tindakan, penguasaan dan siksaan Allah kepada para pendurhaka. Kemudian, dapat diulas pula kedahsyatan kematian, siksa kubur, hari perhitungan amal, dan siksa neraka. Bisa juga disampaikan beragam motivasi dan dorongan, sesuai situasi dan kondisi yang ada.
Sumber bahannya. Hendaknya mengambil bahan dari Kitabullah berdasarkan penjelasan yang paling dekat dan terang, kemudian sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang sudah dikenal kualitasnya di kalangan para ulama’ Ahli Hadits, juga perkataan para sahabat, tabi’in, maupun figur-figur lain yang shalih. Bisa juga mengambil bahan dari sirah nabawiyah. Jangan menuturkan kisah-kisah ajaib yang mengandung unsur kebohongan, sebab para Sahabat sangat membenci hal ini. Mereka mengusir para penuturnya dari masjid-masjid dan bahkan memukul mereka. Kebanyakan kisah jenis ini terdapat dalam isra’iliyat (cerita yang bersumber dari tradisi Yahudi-Nasrani), dimana kebenarannya tidak bisa dijamin; juga dalam sirah dan asbabun nuzul (sebab-sebab turunnya ayat Al-Qur’an).
Komponennya. Sebuah nasihat dan peringatan bisa mengandung targhib, tarhib, tamtsil (perumpamaan) yang jelas, kisah-kisah yang menyentuh hati, dan anekdot-anekdot yang bermanfaat. Adapun masalah halal-haram, doa-doa, aqidah, atau yang serupa dengannya, maka masalahnya sudah jelas dan masing-masing ada disiplin ilmu tersendiri yang mengajarkannya.
Adab bagi pendengar. Hendaklah menghadap ke arah pembicara. Jangan bermain-main atau membuat gaduh dengan celetukan-celetukan. Jangan berbicara sendiri dengan sesama pendengar. Hindari banyak mengajukan pertanyaan, kecuali jika ada masalah yang sangat penting untuk diketahui. Bila masalah yang ingin ditanyakan tidak punya hubungan yang erat dengan tema yang sedang disajikan, atau dikhawatirkan tidak bisa dipahami oleh mayoritas pendengar lainnya, maka tahan dirilah. Tanyakan saja di luar forum secara individual, jika memang perlu. Bila ingin bertanya dan hal itu erat kaitannya dengan tema pembicaraan, tunggu sampai sang pemberi peringatan menyelesaikan kalimatnya; jangan menyela di tengah-tengah.
Perhatian. Di zaman sekarang, banyak pemberi peringatan yang jatuh ke dalam kesalahan-kesalahan fatal. Kebanyakan diantara mereka tidak bisa membedakan antara yang palsu (maudhu’) dengan yang benar (shahih), bahkan mayoritas isi pembicaraanya adalah cerita-cerita palsu, fiktif, atau menyeleweng. Kadang mereka juga suka menyampaikan berbagai bacaan shalawat maupun doa yang sudah divonis “palsu”. Ada lagi yang berlebih-lebihan dalam memberikan targhib dan tarhib, menuturkan kisah pertempuran Karbala, kewafatan tokoh ini itu, dan lain-lain.
Literatur penting. Hampir setiap kitab induk hadits memuat bab-bab khusus yang berjudul al-fadha’il, yakni keutamaan. Selain menguraikan keutamaan amal ibadah, tempat, waktu, bacaan dan ucapan, biasanya dibahas pula keutamaan para sahabat Rasulullah. Bab-bab yang membahas sirah juga mengandung unsur kisah yang dapat dijadikan bahan mau’izhah. Berbagai kitab musnad menyajikan informasi cukup baik untuk pemberian peringatan, karena bab-babnya ditulis berdasarkan nama para perawinya. Kitab-kitab standar tentang biografi perawi hadits pun memuat hal serupa. Meski harus dibaca dengan teliti, namun referensi jenis terakhir ini memuat kisah para tokoh dari dua sisi sekaligus: positif dan negatif. Dalam pemberian mau’izhah, mengemukakan contoh kebaikan dan keburukan akan memperkuat pesan yang hendak disampaikan. Dalam skala lebih luas, dapat ditelaah pula kitab-kitab tarikh, seperti Tarikh al-Khulafa’ karya as-Suyuthi, Namun, untuk bahan yang lebih spesifik, disarankan menelaah kitab-kitab berikut: Hilyatu al-Auliya’ karya Abu Nu’aim al-Ashfahani, juga ringkasannya Shifatu ash-Shafwah milik Ibnu al-Jauzi, Fadha’il ash-Shahabat karya ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, Usud al-Ghabah karya Ibnu al-Atsir, Siyaru A’lami an-Nubala’ karya adz-Dzahabi, al-Faqih wal Mutafaqqih dan ar-Rihlah fi Thalabi al-Hadits karya al-Khathib, atau karya yang lebih modern seperti Rijal Haula ar-Rasul karya Khalid Muhammad Khalid, Mausu’ah Nadhratu an-Na’im fi Makarimi Akhlaqi ar-Rasul al-Karim karya sekelompok sarjana yang dipimpin oleh imam dan khathib Masjidil Haram Syekh Shalih bin ‘Abdullah bin Humaid, dan lain-lain.[*]