Rabu, 14 September 2011

Ilmu Hadits - Al-Mabadi' Al-'Asyrah (5)


Bismillahirrahmanirrahim
 
ILMU HADITS

Definisi. Ilmu yang dengannya dapat diketahui kata-kata (aqwal), perbuatan (af’al), dan keadaan (ahwal) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
Ruang lingkup. Ilmu ini mengkaji hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dari segi isi kandungannya yang ditunjukkan oleh makna maupun maksud yang dapat dipahami dari teksnya.
Manfaat. Tujuan dan manfaat dari mengkaji ilmu ini adalah meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat, dengan cara menghiasi diri dengan adab-adab yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan menjauhi segala yang dilarang maupun tidak disenangi oleh beliau.
Pembagian. Ilmu Hadits dibagi menjadi 2 konsentrasi, yaitu:
a)      Ilmu Riwayah Hadits, yakni ilmu yang membahas tentang cara bersambungnya periwayatan hadits sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dilihat dari segi keadaan para perawinya: apakah mereka ‘adil dan dhabith ataukah tidak; dan dari segi cara bersambung maupun terputusnya sanad, dan lain sebagainya. Disebut juga Ilmu Ushulul Hadits atau Ilmu Musthalah Hadits. Perintis pertama bidang ini adalah al-Qadhi Abu Muhammad al-Hasan bin ‘Abdurrahman ar-Ramahurmuzy (wafat sekitar tahun 350-an hijriyah), dengan bukunya yang berjudul al-Muhaddits al-Fashil baina ar-Rawiy wa al-Wa’iy.
b)      Ilmu Dirayah Hadits, yaitu ilmu yang mengkaji tentang makna dan maksud yang dapat dipahami dari lafal suatu hadits dengan bersandarkan kepada kaidah-kaidah bahasa Arab, ketetapan-ketetapan syari’at, serta kesesuaiannya dengan perilaku Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri. Ulama’ yang dianggap sebagai peletak dasar ilmu ini adalah Muhammad bin Syihab az-Zuhry (w. 125 H), pada zaman kekhilafahan ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz. Hal ini juga atas permintaan khalifah tersebut, karena dikhawatirkan lenyapnya Sunnah akibat wafatnya para sahabat.
Keutamaan. Ilmu Hadits merupakan salah satu ilmu yang paling tinggi derajatnya, sebab dengannya dapat diketahui hadits yang maqbul (dapat diterima) atau mardud (ditolak), sehingga dapat diketahui pula bagaimana caranya mencontoh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam secara benar dan terhindar dari kesalahan.
Nama. Disiplin ilmu ini disebut juga Ilmu ar-Riwayat wa al-Akhbar atau Ushul al-Hadits.
Sumber bahan kajian. Ilmu Hadits bersandar kepada seluruh bagian dari ilmu-ilmu bahasa Arab, berita dan kisah mengenai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, mengenal dua sumber pokok agama (Al-Kitab dan Sunnah), fiqh, biografi para perawi hadits, sejarah kaum muslimin, dan lain-lain.
Hukum mempelajarinya. Ketika tidak ada seorang pun yang menguasai ilmu ini dalam suatu komunitas, maka hukumnya menjadi fardhu ‘ain. Sedang ketika sudah ada yang menjadi pakarnya, maka bersifat fardhu kifayah.
Masalah yang dikaji. Ilmu Hadits mengkaji pokok-pokok persoalan sesuai dengan konsentrasinya. Dalam Ilmu Riwayat, yang dibahas adalah sanad dan matan, yakni apakah ia shahih, dha’if, bersambung, terputus, dan lain sebagainya. Sedang dalam Ilmu Dirayah, yang dikaji adalah makna dan maksud dari suatu hadits, yang biasanya dilakukan lewat pengaitan maupun pembandingan dengan ayat Al-Qur’an, hadits yang lain, maupun kaidah-kaidah syari’at yang sudah tetap.
Literatur penting. Kita dapat memilahnya berdasar konsentrasi Ilmu Hadits itu sendiri, dirayah dan riwayah. Karya-karya induk dalam Ilmu Dirayah antara lain Kutub as-Sittah (al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i dan Ibnu Majah), al-Muwaththa’ karya Malik bin Anas, al-Musnad karya Ahmad bin Hanbal, Sunan ad-Darimi, Shahih Ibnu Khuzaimah, Shahih Ibnu Hibban, al-Mustadrak karya al-Hakim, Sunan ad-Daruquthni, al-Ma’ajim ats-Tsalatsah (al-Kabir, al-Ausath, al-Shaghir) karya ath-Thabrani, Musnad Abu Dawud ath-Thayalisi, Musnad Abu Ya’la al-Maushili, Musnad asy-Syafi’i, Musnad Abu Hanifah, Musnad al-Bazzar, Mushannaf ‘Abdurrazzaq, Sunan Sa’id bin Manshur, Musnad ‘Abd bin Humaid, Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, al-Adab al-Mufrad karya al-Bukhari, Sunan al-Baihaqi al-Kubra, Syu’abu al-Iman karya al-Baihaqi, Musnad asy-Syamiyyin karya ath-Thabrani, Sunan an-Nasa’i al-Kubra, Hilyatu al-Auliya’ karya al-Hafizh Abu Nu’aim al-Ashbahani, Syarh Ma’ani al-Atsar karya ath-Thahawi, Musnad Ibnu al-Ja’di, Musnad al-Humaydi, Musnad asy-Syihab karya al-Qudha’i, Musnad al-Firdaus karya ad-Dailami, Musnad Ishaq bin Rahawaih, al-Muntaqa karya Ibnu al-Jarud, Musnad al-Harits wa Zawa’id al-Haytsami, dan al-Aahad wal Matsani karya Abu ‘Amr asy-Syaibani.
Ke dalam daftar ini dapat ditambahkan sangat banyak judul lain yang dikelompokkan sebagai al-ajza’ al-haditsiyyah, yakni karya-karya mandiri di bidang hadits yang membahas satu tema secara spesifik atau merupakan karya dari jenis khusus. Jika kita sertakan kitab-kitab sejarah (as-siyar wal maghazi), syarh (penjelasan), takhrij dan fadha’il (keutamaan), maka jumlah literatur dalam bidang ini akan menghabiskan satu kali usia kita – bahkan lebih – hanya untuk menelaahnya saja. Ada karya-karya spektakuler seperti al-Mu’jam al-Kabir (25 juz), at-Tamhid karya Ibnu ‘Abdil Barr (24 juz), Syarh an-Nawawi ‘ala Shahih Muslim (18 juz), Kanzu al-‘Ummal karya al-Muttaqi al-Hindi (16 juz), dan Fathul Baari karya Ibnu Hajar (13 juz). Meski demikian, ada banyak karya lainnya yang hanya terdiri dari 1 juz kecil saja seperti Musnad asy-Syafi’i dan al-Adab al-Mufrad.
Untuk disiplin Ilmu Riwayah atau Mushthalah Hadits, karya di bidang ini tidak terhitung jumlahnya, diantaranya al-Ilma’ karya al-Qadhi ‘Iyadh, Ma’rifatu ‘Ulumil Hadits karya al-Hakim, Muqaddimah karya Ibnu Shalah, al-Kifayah fi ‘Ilm ar-Riwayah karya al-Khathib al-Baghdadi, Nukhbatu al-Fikr karya al-Hafizh Ibnu Hajar, at-Taqrib wa at-Taysir karya an-Nawawi, Tadribu ar-Rawi karya as-Suyuthi, dan lain-lain.
Karya-karya yang memuat biografi para perawi hadits juga termasuk jenis ini, yang biasanya disebut dengan tarajum (biografi), thabaqat (angkatan/generasi), al-‘ilal (cacat), tarikh (sejarah) atau al-jarh wat-ta’dil, seperti al-Ishabah fi Tamyizi ash-Shahabah karya al-Hafizh Ibnu Hajar, at-Tarikh al-Kabir karya al-Bukhari, al-Jarh wat-Ta’dil karya Ibnu Abi Hatim, Tahdzibu al-Kamal karya al-Hafizh al-Mizzy, Tadzkiratu al-Huffazh karya adz-Dzahabi, ath-Thabaqat al-Kubra karya Ibnu Sa’ad, Tarikh Dimasyqa karya Ibnu ‘Asakir, Tarikh Baghdad karya al-Khathib al-Baghdadi, ats-Tsiqat dan al-Majruhin karya Ibnu Hibban, adh-Dhu’afa’ wal Matrukin karya an-Nasa’i, dan lain sebagainya. [*]