Senin, 12 September 2011

Adabul 'Alim wal Muta'allim (kompilasi)

 

Bismillahirrahmanirrahim

آداب العالم والمتعلّم

ADAB-ADAB GURU DAN MURID


MUQADDIMAH – TENTANG ADAB
1 – Ibnul Mubarak berkata, “Kita lebih butuh kepada sedikit saja dari adab dibanding kepada ilmu yang banyak.”
2 – Beliau juga berkata, “Barangsiapa yang meremehkan adab-adab, maka ia akan dihukum dengan terhalang dari sunnah-sunnah. Barangsiapa yang meremehkan sunnah-sunnah, maka ia akan dihukum dengan terhalang dari fardhu-fardhu. Dan, barangsiapa yang meremehkan fardhu-fardhu, maka ia akan dihukum dengan terhalang dari ma’rifat (mengenal Allah).”
3 – Syekh Abu ‘Ali ad-Daqqaq berkata, “Meninggalkan adab itu mengharuskan pengusiran. Barangsiapa yang beradab buruk diatas permadani (di ruang tamu), ia akan dikembalikan ke pintu. Barangsiapa yang beradab buruk di depan pintu, maka ia dikembalikan ke atas hewan tunggangannya.”
4 – Sebagian ulama’ berkata kepada anaknya, “Wahai anakku, sungguh bila engkau mempelajari satu bab adab itu lebih aku cintai dibanding bila engkau mempelajari tujuh puluh bab ilmu.”
5 – Imam asy-Syafi’i, semoga Allah merahmatinya, berkata, “Wahai Muhammad (yakni, salah seorang murid beliau), jadikanlah ilmumu sebagai garam dan jadikanlah adabmu sebagai tepung.”
6 – ‘Abdurrahman bin al-Qasim berkata, “Saya berkhidmat kepada Imam Malik selama 20 tahun. Dua tahun diantaranya (saya habiskan) untuk mempelajari ilmu, sedangkan 18 tahun lainnya untuk mempelajari adab. Duh, andai saja saya habiskan seluruh masa itu untuk mempelajari adab!”
7 – Ada dikatakan, “Jika seorang guru telah menyatukan tiga hal ini, maka sempurnalah kenikmatan yang diraih muridnya, yaitu: kesabaran, kerendah-hatian (tawadhu’), dan akhlak yang baik. Jika seorang pelajar telah menyatukan tiga hal ini, maka sempurnalah kenikmatan yang diraih gurunya, yaitu: kecerdasan (al-‘aql), adab, dan pemahaman yang baik.” – dikutip dari: Ihya’ ‘Ulumiddin.

ADAB-ADAB SEORANG GURU (‘ALIM)
9 – Imam al-Haddad berkata, “Orang berilmu tidak akan bisa merasakan lezatnya ilmu sebelum dia menempa jiwa dan akhlaknya sehingga lurus sesuai dengan al-Kitab dan Sunnah, serta mencampakkan (keinginan untuk meraih) kekuasaan di bawah telapak kakinya.”
10 – Diantara adabnya adalah inshaf (adil dan obyektif). Imam Ibnu ‘Abdil Barr, semoga Allah merahmatinya, berkata, “Diantara berkah dan adab ilmu adalah inshaf.”
11 – Imam Malik berkata, “Di zaman kita ini, tidak ada yang lebih langka dibanding inshaf.”
12 – Diantara contoh inshaf adalah: ada seorang wanita yang membantah pernyataan ‘Umar dan mengingatkan beliau mana yang benar, padahal ketika itu beliau sedang berkhutbah di hadapan khalayak ramai. Namun, beliau berkata, “Wanita itu benar, dan laki-laki ini keliru.”
13 – Ada seorang laki-laki yang bertanya kepada ‘Ali, dan beliau menjawabnya. Kemudian, ada seseorang yang berkata, “Bukan begitu, wahai Amirul Mu’minin. Tetapi, begini dan begitu.” Maka, beliau berkomentar, “Kamu benar, dan aku keliru. Dan, diatas setiap yang berilmu itu adalah yang lebih pandai (darinya).” – dikutip dari al-Ihya’.
14 – Diantara adabnya adalah mengatakan la adriy (saya tidak tahu) atau wallahu a’lam (Allah lebih tahu), ketika dia ditanya perihal sesuatu yang tidak diketahuinya. Ada sebuah atsar yang dikutip dari Ibnu ‘Umar, bahwa beliau berkata, “Ilmu itu ada tiga: Kitab Allah yang berbicara, Sunnah yang sudah berlaku tetap, dan la adriy (saya tidak tahu).” – dikeluarkan oleh ath-Thabrani dalam al-Awsath.
15 – Imam an-Nawawi berkata, “Diantara bentuk ilmu yang dimiliki seorang ‘alim adalah pernyataan ‘saya tidak tahu’ atau ‘Allah lebih tahu’ dalam persoalan-persoalan yang tidak diketahuinya.”
16 – Beliau juga berkata, “Ketahuilah, menurut keyakinan muhaqqiqin (orang-orang yang sangat mantap ilmunya) bahwa pernyataan ‘saya tidak tahu’ dari seorang ‘alim tidak akan menjatuhkan martabatnya. Sebaliknya, hal itu menunjukkan hebatnya kedudukan, ketakwaan dan kesempurnaan pengetahuannya. Sebab, orang yang sudah sangat mantap ilmunya, tidak masalah jika dia tidak mengetahui beberapa persoalan. Bahkan, pernyataannya: ‘saya tidak tahu’ itu bisa menjadi petunjuk atas ketaqwaannya, dan bahwasanya dia tidak sembarangan/ngawur dalam berfatwa.” – dari: Muqaddimah Syarh al-Muhadzdzab.
17 – Amirul Mu’minin ‘Ali bin Abi Thalib berkata, “Betapa sejuk hatiku!” – tiga kali. Orang-orang bertanya, “Ada apa, wahai Amirul Mu’minin?” Beliau menjawab, “Ketika seorang ditanyai perihal sesuatu yang tidak ia ketahui, lalu ia menjawab: ‘Allah lebih tahu.’”
18 – Diantara adabnya adalah berhati-hati – yakni, cenderung menghindari – dari memberi fatwa. Telah diriwayatkan kepada kami, dari ‘Abdurrahman bin Abi Layla, beliau berkata, “Saya sempat menjumpai 120 orang Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Salah seorang dari mereka ditanyai tentang suatu permasalahan, lalu yang ini mengarahkannya kepada yang itu, (demikian seterusnya) sampai akhirnya kembali lagi kepada orang yang pertama.”
19 – Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas berkata, “Barangsiapa yang memberi fatwa atas segala persoalan yang ditanyakan kepadanya, maka dia itu gila.”
20 – Imam Malik pernah berkata, “Barangsiapa yang hendak menjawab suatu persoalan, maka – sebelum menjawab – sebaiknya ia ‘menawarkan’ dirinya kepada surga dan neraka, serta (mencari tahu) bagaimana jalan keluarnya. Setelah itu, barulah dia menjawab.”
21 – Beliau juga berkata, “Saya tidak berfatwa sebelum 70 orang (ulama’) mempersaksikan bahwa saya layak untuk itu.” – dari: Muqaddimah Syarh al-Muhadzdzab.
22 – Dalam muqaddimah kitabnya, Mathlabu al-Iqazh, Imam ‘Abdullah bin Husain Balfaqih berkata, “Hendaklah Anda mengingat apa yang diriwayatkan dari Nabi terpilih, beliau bersabda, “Orang yang paling berani berfatwa diantara kalian adalah orang yang paling berani masuk neraka.” Hendaklah Anda merenungkan keadaan generasi salafus shalih di kalangan Sahabat dan Tabi’in, juga para ulama’ lain sepeninggal mereka, dimana mereka sangat berhati-hati dalam masalah fatwa padahal ilmu mereka sangatlah mantap dan mendalam, ijtihad mereka sangat kuat, dan mereka pun sangat terjauh dari hawa nafsu, sampai-sampai diriwayatkan bahwa Imam Malik hanya menjawab empat pertanyaan dari sekitar 40 pertanyaan yang diajukan kepada beliau, dan untuk selebihnya beliau menjawab: ‘Allah lebih tahu.’”
23 – Diantara adabnya adalah memandang remeh dan menjaga jarak dari dunia. Seorang guru (‘alim) hendaknya selalu menjaga kehormatannya, menjaga jarak dari orang-orang yang angkuh dan budak-budak dunia. Ibnu Mas’ud berkata, “Andai saja para pengemban ilmu itu menjaga ilmunya dan hanya menempatkannya pada orang-orang yang tepat, niscaya mereka akan memimpin orang-orang yang hidup sezaman dengan mereka. Namun, mereka menukarkan ilmunya kepada para penguasa dunia, dengan harapan memperoleh sebagian dari dunia mereka, sehingga mereka pun menjadi remeh di mata orang-orang yang (sebenarnya) layak menerima ilmu itu.”
24 – Rabi’ah ar-Ra’yu berkata, “Tidak pantas bagi seseorang – yang dalam dirinya ada sedikit ilmu – untuk menyia-nyiakan dirinya.” Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, “Yang dimaksud Rabi’ah adalah: siapa saja yang dalam dirinya ada kepahaman dan kesiapan untuk mencerna ilmu, maka tidak pantas untuk berleha-leha dan tidak mau belajar sungguh-sungguh, supaya hal itu tidak mengakibatkan terhapusnya ilmu. Atau, maksud beliau: anjuran untuk menyebarkan ilmu kepada orang-orang yang layak menerimanya, supaya ia tidak meninggal sebelum sempat menyebarkannya, sehingga mengakibatkan terhapusnya ilmu. Atau, maksud beliau: agar seorang guru (‘alim) secara sengaja mempopulerkan dirinya dan menonjolkan diri agar orang-orang belajar kepadanya, sehingga ilmunya tidak menjadi sia-sia. Ada yang mengatakan, maksudnya: hormati dan agungkan ilmu itu, sehingga dia tidak menghinakan dirinya dengan menjadikan ilmunya sebagai barang dagangan (untuk ditukar) dengan dunia.”
25 – ‘Umar bin al-Khaththab pernah berkata kepada ‘Abdullah bin Salam, “Siapakah para pemilik ilmu itu?” Dijawab, “Orang-orang yang mengamalkannya.” ‘Umar bertanya lagi, “Lalu, apakah yang akan melenyapkan ilmu dari hati para ulama’?” Dijawab, “Ketamakan.”
26 – Al-Hasan al-Bashri berkata, “Hukuman untuk para ulama’ adalah matinya hati. Dan, kematian hati (akan terjadi ketika) mereka memburu dunia dengan amal-amal akhirat.”
27 – ‘Abdullah bin al-Mubarak berkata, “Barangsiapa yang telah mengemban Al-Qur’an, kemudian hatinya condong kepada dunia, maka sebenarnya ia telah menjadikan ayat-ayat Allah sebagai bahan ejekan dan permainan belaka.”
28 – Imam al-Ghazali menyatakan, bahwa seorang ‘alim (berilmu) namun dia termasuk salah seorang dari budak-budak dunia, maka dia lebih rendah posisinya dan lebih berat siksanya dibanding orang yang jahil (tidak berilmu).
29 – Diantara adabnya adalah rendah hati (tawadhu’), baik dalam kondisi sendirian maupun di hadapan orang lain, dan selalu mengawasi dirinya sendiri. Diriwayatkan dari al-Fudhail bin ‘Iyadh, “Sesungguhnya Allah mencintai orang ‘alim yang rendah hati dan membenci orang ‘alim yang angkuh. Dan, barangsiapa yang bersikap rendah hati semata-mata karena Allah, maka Allah akan mewariskan hikmah kepadanya.”
30 – Imam an-Nawawi berkata, “Dulu, banyak sekali ulama’ salaf yang mau belajar dari murid-muridnya, untuk persoalan-persoalan yang tidak mereka mengerti.”
31 – Telah tsabit dari Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau membaca surah Lam yakunil-ladzina kafaru dengan disimak oleh Ubay bin Ka’ab, dan bersabda, “Sesungguhnya Allah menyuruh saya untuk membacanya di hadapanmu.” Dari sini, para ulama’ menyimpulkan beberapa faidah, diantaranya: menjelaskan tentang (contoh) sikap rendah hati, dan bahwasanya orang yang lebih tinggi kedudukannya itu tidak perlu merasa gengsi untuk membaca dengan disimak oleh orang yang lebih rendah.
32 – Sa’id bin Jubair berkata, “Seseorang itu senantiasa menjadi orang berilmu (‘alim) selama dia mau terus belajar. Jika dia sudah tidak mau belajar lagi, dan menyangka bahwa dirinya telah berkelimpahan serta cukup dengan ilmu yang dimilikinya, maka dia adalah orang terbodoh diantara semua makhluk yang ada.”
33 – Diantara petuah Imam Muhammad bin Zain bin Sumayth adalah, “Sungguh, siapa saja yang bisa memaksa dirinya dan menerima kebenaran dari siapapun datangnya, maka dia telah bersikap rendah hati di hadapan kebenaran dan bersikap adil serta obyektif. Inilah sifat pelajar sejati, dia mau menerima ilmu dari siapa saja, dimana saja, dan milik siapa saja; tidak menjadikan ilmu yang dicarinya itu terbatas pada sebagian orang dan tidak (mau menerima) dari yang lain.”
34 – Diriwayatkan bahwa Nabi Sulaiman ‘alaihis salam – walaupun telah dikaruniai kekuasaan yang sedemikian hebat – beliau tidak mau mengangkat matanya (untuk menatap) ke langit, sebagai ekspresi kekhusyu’an dan kerendah-hatian kepada Allah. Beliau memberi makan orang lain dengan makanan-makanan terlezat, namun memakan roti gandum untuk dirinya sendiri. Pernah ada seorang wanita tua mencegatnya, sementara beliau tengah terbang dibawa angin bersama pasukan pengawalnya, lalu beliau menyuruh angin untuk berhenti dan beliau (turun) untuk memeriksa apa keperluan wanita tua itu. Kisah ini dituturkan oleh al-Qadhi ‘Iyadh dalam asy-Syifa’.
35 – Diantara adabnya adalah tidak suka berdebat dan bantah-membantah. Imam asy-Syafi’i berkata: saya mendengar Sufyan bin ‘Uyainah berkata, “Seorang ‘alim itu tidak suka mendebat dan bermanis-manis muka (maksudnya: tidak suka menjilat). Dia akan menyebarkan hikmah; bila diterima dia akan memuji Allah, dan bila ditolak dia pun tetap memuji Allah.”
36 – Imam al-Haddad berkata, “Diantara watak penganut kebenaran adalah tidak suka berdebat. Jika pun terpaksa harus berdebat, maka cukup dengan satu kalimat saja, berdasarkan firman Allah, “Janganlah engkau mendebat Ahli Kitab kecuali dengan (cara) yang terbaik.” (Qs. al-‘Ankabut: 46).
37 – Diantara adabnya adalah bersikap simpatik dan penuh kasih kepada para pencari ilmu. Dalam Muqaddimah Syarh al-Muhadzdzab, Imam an-Nawawi berkata, “Dianjurkan kepada seorang guru agar bersikap simpatik kepada murid dan berbuat baik kepadanya semaksimal mungkin. Diriwayatkan dari Abu Harun al-‘Abdiy, beliau berkata: “Dulu kami pernah mendatangi Abu Sa’id al-Khudry, maka beliau pun berkata: ‘Selamat datang wasiat Rasulullah! Sungguh beliau bersabda, ‘Sesungguhnya manusia akan mengikuti kalian. Akan ada orang-orang yang datang dari berbagai penjuru untuk mendalami urusan agamanya. Jika mereka datang kepada kalian, maka perlakukanlah mereka sebaik-baiknya.” – dikeluarkan oleh at-Tirmidzi dan Ibnu Majah.
38 – Imam al-Haddad berkata, “Sungguh kami tidak suka untuk memilih-milih murid, akan tetapi kami akan memberinya (ilmu) sesuai dengan kemampuannya. Engkau melihat suatu kaum yang berpanjang lebar (menjelaskan sesuatu) kepada para pemula dan membuat mereka bingung, sehingga mereka menjadi bosan. Ada dua ilmu dimana kami tidak merasa aman terhadap kestabilan pemikiran para pengkaji ilmu di zaman ini, yaitu ilmu hakikat dan ilmu tentang perbedaan pendapat diantara para Imam.”
39 – Beliau juga berkata, semoga Allah menjadikannya bermanfaat bagi kita, “Sebaiknya, di zaman ini, yang dipelajari adalah apa yang sesuai dengan murid, meskipun tidak sama dengan apa yang dipelajari generasi salaf, agar ia bisa mengambil manfaat darinya. Sebab, andai bukan karena ia mau mempelajarinya secara mandiri, ia pasti lupa. Selain itu, agar mendapat pahala.”

ADAB-ADAB PELAJAR DALAM MENCARI ILMU
40 – Diantara adabnya adalah mensucikan hati dan membersihkannya dari hal-hal yang tidak sesuai. Imam an-Nawawi berkata dalam Muqaddimah Syarh al-Muhadzdzab, “Seyogyanya seorang pelajar mensucikan hatinya dari noda-noda, agar layak untuk menerima, mengingat dan memetik buah dari ilmu.”
41 – Dalam ash-Shahihain, diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda, “Sungguh di dalam jasad ini ada segumpal daging. Jika ia baik, maka pasti baik pula seluruh tubuh. Jika ia rusak, maka pasti rusak pula seluruh tubuh. Ketahuilah, ia adalah hati.”
42 – Imam al-Haddad berkata, “Andai saja engkau mendatangi seseorang dengan membawa mangkok yang kotor dan ingin meminta darinya minyak, madu, atau yang lainnya, ia pasti akan berkata kepadamu: ‘Pergilah, cuci dulu (mangkokmu)!” Yang seperti ini dalam urusan duniawi, maka bagaimana mungkin rahasia-rahasia (agama) akan diletakkan di dalam hati-hati yang kotor?” – kurang lebih demikian pernyataan beliau.
43 – Dikisahkan bahwa ketika asy-Syafi’i – di awal masa belajarnya – datang kepada Imam Malik dan membaca al-Muwaththa’ langsung dari ingatannya, beliau merasa kagum dengan bacaannya dan kemudian membimbingnya. Beliau berkata kepada asy-Syafi’i, “Hai Muhammad, bertakwalah kepada Allah dan jauhilah maksiat-maksiat. Sungguh, akan ada ‘sesuatu’ padamu, kelak!”
44 – Dalam riwayat lain, beliau berkata kepada asy-Syafi’i, “Sungguh Allah telah menjatuhkan cahaya di hatimu, maka jangan kaupadamkan dengan maksiat.”
45 – Imam asy-Syafi’i pernah berkata (dalam bentuk syair), “Aku mengeluhkan buruknya hafalanku kepada Waki’, maka beliau membimbingku untuk meninggalkan maksiat-maksiat. Beliau memberitahuku bahwa ilmu adalah cahaya, dan cahaya Allah tidak akan dihadiahkan kepada orang yang suka bermaksiat.”
46 – Sahl bin ‘Abdullah at-Tustary berkata, “Tidak mungkin hati akan dimasuki cahaya sementara di dalamnya masih ada sesuatu yang membuat Allah tidak senang.”
47 – Diantara adabnya adalah ikhlas dalam mempelajari suatu ilmu. Ketahuilah, bahwa seorang pencari ilmu harus memiliki niat yang baik dalam belajar. Sebab, niat merupakan pondasi semua amal perbuatan, berdasarkan sabda Rasulullah, “Amal-amal itu hanya (dinilai) dengan niat-niatnya.” Hendaklah ia bermaksud memperoleh wajah Allah, mengamalkan ilmu, menghidup-hidupkan syariat, mendekatkan diri kepada Allah, mencari keridhaan-Nya, menghapuskan kejahilan dari dirinya sendiri dan semua orang jahil lainnya, menghidup-hidupkan agama dan menjaga lestarinya Islam dengan melakukan amar makruf nahi munkar semaksimal mungkin, baik terhadap dirinya sendiri maupun orang lain.
48 – Diantara adabnya adalah rendah hati (tawadhu’) dan berkhidmat kepada guru. Seyogyanya, seorang pencari ilmu tidak menghinakan dirinya dengan (tunduk kepada) ketamakan dan menjaga dirinya dari kesombongan. Imam asy-Syafi’i berkata, “Tidak seorang pun yang mencari ilmu ini dengan kekuasaan dan gengsi tinggi kemudian bisa berhasil. Akan tetapi, barangsiapa yang mencarinya dengan (kesediaan untuk) merendahkan diri, menanggung penghidupan yang sempit, dan berkhidmat kepada guru, niscaya akan berhasil.”
49 – Dalam sebuah atsar dari Ibnu ‘Abbas, beliau berkata, “Aku telah merendahkan diriku sebagai pencari (ilmu), maka sekarang aku menjadi mulia sebagai orang yang dicari (ilmunya).”
50 – Dulu, Ibnu ‘Abbas suka pergi ke rumah Ubayy bin Ka’ab. Terkadang, pintu rumah beliau terbuka sehingga Ibnu ‘Abbas diizinkan masuk dengan segera. Namun, terkadang pintu itu tertutup, namun beliau malu untuk mengetuknya. Ibnu ‘Abbas pun berdiam diri sampai – sesekali – melewatkan sebagian besar siangnya, duduk menunggu di depan pintu, sementara angin menerbangkan debu-debu sehingga tubuhnya sulit dikenali karena sedemikian banyaknya debu yang menutupi tubuh dan pakaiannya. Ubayy keluar dan mendapati Ibnu ‘Abbas dalam kondisi seperti itu, sehingga terasa berat di hati beliau. Beliau berkata, “Mengapa engkau tidak minta izin (untuk masuk)?” Ibnu ‘Abbas mengemukakan alasannya, yaitu karena merasa malu. Pada suatu hari, Ubayy ingin menaiki hewan tunggangannya, maka Ibnu ‘Abbas segera memegangi tali kekangnya sampai Ubayy naik, kemudian Ibnu ‘Abbas berjalan kaki mengiringinya. Ubayy bertanya, “Apa ini, hai Ibnu ‘Abbas?” Dijawab, “Demikianlah kami diperintahkan untuk menghormati para guru kami.” Ubayy terus berkendara sementara Ibnu ‘Abbas berjalan kaki di sampingnya. Tatkala Ubayy turun, beliau segera mencium tangan Ibnu ‘Abbas. Ibnu ‘Abbas bertanya, “Apa ini?” Dijawab, “Demikianlah kami diperintahkan untuk menghormati Ahli Bait Nabi kami.”
51 – Sufyan bin ‘Uyainah berkata, “Saya telah membaca Al-Qur’an pada usia 4 tahun, dan mulai mencatat hadits pada usia 7 tahun. Ketika saya telah mencapai usia 15 tahun, ayah berkata kepada saya, ‘Wahai anakku, telah berakhir padamu syariat (yang berlaku) sebagai kanak-kanak. Sekarang, gelutilah kebaikan, niscaya engkau menjadi ahlinya. Ketahuilah, tidak akan ada yang berbahagia (bergaul) dengan guru kecuali orang yang mau mematuhinya. Maka, patuhilah mereka, niscaya engkau berbahagia. Berkhidmatlah kepada mereka, niscaya engkau bisa memetik sebagian dari ilmu mereka.” Sejak itu, saya selalu cenderung kepada pesan ayah dan tidak pernah menyimpang darinya.” – dikutip oleh an-Nawawi dalam at-Tahdzib.
52 – Diantara petuah Imam Ja’far ash-Shadiq adalah, “Ada empat hal, dimana seorang tokoh terpandang tidak boleh merasa gengsi untuk melakukannya, yaitu: berdiri dari tempat duduknya untuk (menyambut) ayahnya, melayani tamu, berdiri (untuk memegangi) kendaraan milik tamunya (ketika hendak pulang), dan berkhidmat kepada gurunya.”
53 – Mujahid berkata, “Orang yang pemalu dan sombong tidak akan bisa mempelajari ilmu.”
54 – Diantara adabnya adalah mencari ilmu dari mana saja. Imam ‘Aydrus bin ‘Umar al-Habsyi berkata, “Seyogyanya penempuh jalan spiritual (salik) mau mengambil faidah-faidah ilmiah serta adab-adab yang baik dan syari’yah dari mana saja ia mendapatinya: orang yang jauh atau dekat, terpandang atau rendahan, terkenal atau terpinggirkan. Jangan terjerat oleh ikatan-ikatan tolol dan sudah menjadi adat kebiasaan, sehingga ia mencegah dirinya sendiri dari belajar kepada guru yang tidak memiliki nama besar, kemasyhuran, maupun reputasi hebat. Sebab, yang suka berbuat demikian adalah orang-orang yang jahil dan lalai terhadap apa yang dinyatakan dalam sebuah riwayat, “Hikmah adalah sesuatu yang terhilang dari seorang mukmin. Dimana dan kapan saja ia mendapatinya, niscaya ia memungutnya.” Ia juga jahil dan lalai terhadap petuah Ahli Hikmah, “Lihatlah apa yang dikatakan, jangan lihat siapa yang mengatakan.”
55 – Imam al-Haddad berkata, “Seseorang tidak akan dibukakan baginya (pintu) ilmu sampai ia mempelajarinya dan merasa yakin bahwa ia samasekali tidak memilikinya. Sebab, tampilan-tampilan duniawi itu terkadang tidak pas dengan tampilan ukhrawi.”
56 – Diantara adabnya adalah mengurangi makan dan jam tidur. Sahnun berkata, “Ilmu itu tidak layak bagi seseorang yang makan sampai kekenyangan.”
57 – Diantara hikmah Luqman al-Hakim adalah, “Wahai anakku, jika lambung penuh, maka pikiran akan tertidur, hikmah menjadi bisu, dan anggota-anggota tubuh akan malas untuk beribadah.”
58 – Imam asy-Syafi’i berkata, “Saya tidak pernah kekenyangan sejak 16 tahun silam, kecuali sekali saja yang (kemudian) saya campakkan sejak saat itu. Sebab, kekenyangan itu akan memberatkan badan, mengeraskan hati, menghilangkan kecerdasan, mendatangkan (keinginan untuk) tidur, melemahkan dari ibadah, dan mengeluarkannya dari kalangan para wali.”
59 – ‘Umar bin al-Khaththab berkata, “Jauhilah terlalu kenyang dalam makan dan minum, sebab ia merusak tubuh, mendatangkan kegagalan, dan membuat malas mengerjakan shalat. Hendaklah kalian (mengambil) seperlunya saja dalam makanan dan minuman, sebab yang demikian itu lebih besar maslahatnya bagi tubuh dan lebih jauh dari sikap melampaui batas. Sungguh, Allah membenci orang yang angkuh lagi gemuk.” – diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam ath-Thibb an-Nabawy, dan beliau mengutipnya lagi dalam Kasyful Khafa’.

ADAB-ADAB MURID KEPADA GURUNYA
60 – Dinyatakan dalam sebuah atsar, “Pelajarilah ilmu, pelajari pula ketenangan dan kewibawaan untuk ilmu itu, dan bersikap rendah hatilah kepada guru-guru kalian.” – dikeluarkan oleh ath-Thabrani dalam al-Awsath dan Ibnu ‘Adiy dalam al-Kamil.
61 – Imam an-Nawawi berkata, “Seyogyanya pelajar bersikap rendah hati dan beradab kepada gurunya, meskipun gurunya itu lebih muda dan lebih rendah darinya dalam hal popularitas, nasab maupun keshalihan. Sebab, dengan kerendah-hatian itulah dia akan merengkuh ilmu.”
62 – Ada yang melantunkan sebuah syair, “Ilmu itu (menyatakan) perang kepada pemuda y`ng tinggi hati, sebagaimana aliran air yang menjadi musuh bagi tempat yang tinggi.”
63 – Imam ‘Ali bin Hasan Al-‘Attas berkata, “Sesungguhnya hasil yang didapat dari ilmu, kefahaman dan cahaya itu sesuai dengan kadar adab kepada guru. Seberapa besar nilai gurumu itu bagimu, maka – tidak diragukan lagi – sebesar itu pulalah kadar ilmu, kefahaman dan cahaya yang akan engkau dapatkan di sisi Allah.”
64 – Dulu, al-Amin dan al-Ma’mun, dua putra khalifah Harun ar-Rasyid, berlomba-lomba untuk mencapai sandal guru mereka, al-Kisa’i, siapa diantara mereka berdua yang akan memasangkannya di kakinya. Pada saat itulah al-Kisa’i berkata, “Masing-masing dari kalian mengambil satu sandal.”
65 – Diriwayatkan, “Orangtuamu itu ada tiga, yaitu orangtua yang melahirkanmu, orangtua yang menikahkan putrinya denganmu, dan orang yang mengajarimu, dan dia inilah yang paling utama diantara ketiganya.”
66 – Oleh karenanya, ada yang bersyair, “Aku lebih mendahulukan berbakti kepada guruku dibanding orangtuaku, meskipun orangtuaku telah memberikan kebajikan dan kasih sayang kepadaku. Guru adalah penempa ruh, padahal ruh adalah inti. Sedangkan orangtua adalah pembentuk jasad, dan jasad bagaikan cangkang kerang saja bagi ruh itu.”
67 – Abu Hanifah pernah berkata, “Saya tidak pernah mengerjakan shalat sejak meninggalnya Hammad – yakni, salah seorang guru beliau – melainkan saya memohonkan ampunan untuk beliau bersama-sama dengan kedua orangtu saya. Sungguh, saya memohonkan ampunan untuk orang yang mengajari saya, atau yang saya ajari suatu ilmu.”
68 – Imam asy-Syafi’i berkata, “Saya pernah membalik kertas (untuk memeriksa isinya) di hadapan Imam Malik dengan pelan-pelan sekali, karena saya merasa segan kepada beliau, agar beliau tidak mendengar suara gemerisiknya.”
69 – Ar-Rabi’, murid terdekat asy-Syafi’i, berkata, “Saya tidak berani meminum air sedangkan asy-Syafi’i melihat saya, karena saya merasa segan kepadanya.”
70 – Imam asy-Sya’rani berkata: telah sampai kisah kepada kami, bahwa pada suatu hari Imam an-Nawawi dipanggil oleh gurunya, Kamaluddin al-Irbily, untuk makan bersama gurunya ini. Namun, beliau berkata, “Tuan, maafkan saya, sebab saya mempunyai udzur syar’i.” Maka, gurunya pun tidak jadi mengajaknya. Sebagian temannya kemudian bertanya, “Udzur apakah itu?” Dijawab, “Saya khawatir mata guru saya sudah lebih dahulu memandang satu bagian suapan makanan, tetapi saya justru memakannya, sedangkan saya tidak menyadarinya.”
71 – Diriwayatkan dari Amirul Mu’minin ‘Ali bin Abi Thalib, beliau berkata, “Diantara hak guru yang menjadi tanggunganmu adalah engkau ucapkan salam kepada orang lain secara umum, dan engkau khususkan salam penghormatan untuknya sendirian, engkau duduk di hadapannya, jangan menunjuk dengan tanganmu di sisinya, jangan pula memberi isyarat dengan kedua matamu. Janganlah engkau mengatakan: ‘Si fulan berkata, bertentangan dengan perkataan Anda.’ Jangan meng-ghibah seorang pun di sisinya, jangan berbincang-bincang dengan orang yang duduk di sebelahmu ketika engkau berada di majlis gurumu, jangan memegangi pakaiannya jika dia hendak pergi – yakni: jangan menahannya. Jangan mendesaknya bila dia sedang tidak bersemangat, dan jangan berpaling – yakni: jangan pernah merasa puas dari lamanya mendampinginya.” – riwayat ini dikutip Imam an-Nawawi dalam at-Tibyan.
72 – Abu Sahl ash-Shu’luky berkata, “Kedurhakaan kepada kedua orangtua bisa dihapuskan oleh taubat, namun kedurhakaan kepada para guru tidak bisa dihapuskan oleh sesuatu pun samasekali.” – dinukil oleh an-Nawawi dalam at-Tahdzib.
73 – Imam Ahmad bin ‘Umar al-Hinduwan pernah berkata, “Mereka itu terhalang dari ilmu semata-mata karena kurangnya penghormatan mereka kepada para ahli ilmu.”

***

[*] Diterjemahkan dari naskah elektronik, dikutip dari situs Multaqa an-Nukhbah al-Islamiy, yang dikirim oleh salah seorang anggotanya, dengan nama sandi Da’iy al-Khair (nomer anggota: 1841), pada tanggal 11 Desember 2009; link: http://www.nokhbah.net/vb/showthread.php?p=21495.
[*] Selesai dialihbahasakan oleh M. Alimin Mukhtar, pada hari Sabtu, 23 Rabi’ul Awwal 1432 H. Semoga Allah menjadikannya bermanfaat dan ikhlas di sisi-Nya. Semoga Allah mengampuni kesalahannya, juga bagi kedua orangtua dan guru-gurunya. Amin, walhamdu lillahi rabbil ‘alamin.