Mengenal kitab "Mu'jam al-Furuq al-Lughawiyah"



Bismillahirrahmanirrahim

Apakah Anda pernah kebingungan membedakan antara hasan, khair, ma’ruf, dan birr, karena semua diterjemahkan dengan arti “baik”? Atau, apa bedanya qira’ah, tilawah dan tartil, sebab ketiganya dialihbahasakan sebagai “membaca”?
Jika Anda tertarik dan memerlukan perbedaan-perbedaan halus diantara berbagai istilah Arab yang terkesan sama tersebut, maka Anda bisa menemukannya dalam Mu’jam al-Furuq al-Lughawiyah (kamus perbedaan-perbedaan kebahasaan), sebuah “kamus” yang digabungkan oleh Syaikh Baitullah Bayyat dan tim peneliti Muassasah an-Nasyr al-Islami dari dua karya serupa, yaitu al-Furuq al-Lughawiyah karya Abu Hilal al-‘Askary dan Furuqu al-Lughat karya Sayyid Nuruddin bin Sayyid Ni’matullah al-Jaza’iri. Dalam pengantar edisi gabungan disebutkan pula sebagian nama anggota tim peneliti tsb, yaitu Syaikh ‘Ali ath-Thabathaba’iy, Syaikh Riyadh ar-Rawi, dan Abu Haidar al-Jawahiri.
Kitab ini telah dicetak secara terbatas di Qum, Iran, pada 1412 H, setebal 630 halaman, dalam 1 jilid saja, dan di dalamnya memuat 2.362 entri berupa kelompok kata yang sebenarnya berbeda-beda maknanya namun mempunyai kemiripan dalam banyak segi. Sebagaimana umumnya kamus, kitab ini disusun secara alfabetis. Pada entri pertama, disajikan perbedaan antara al-aatsim ( ุงู„ุขุซู… ) dengan al-atsiim ( ุงู„ุฃุซูŠู… ), dan pada entri terakhir dikemukakan perbedaan antara al-yaum ( ุงู„ูŠูˆู… ) dengan an-nahar ( ุงู„ู†ู‡ุงุฑ ).
Nama lengkap penyusun al-Furuq al-Lughawiyah adalah Abu Hilal al-Hasan bin ‘Abdullah bin Sahl bin Sa’id Ibnu Yahya bin Mihran al-‘Askari, seorang ahli bahasa di zamannya. Tahun wafatnya tidak diketahui secara persis, namun beliau diketahui masih hidup sampai tahun 395 H (1005 M). Sedang penyusun Furuq al-Lughat adalah Sayyid Nuruddin bin Sayyid Ni’matullah al-Jaza’iri, wafat tahhun 1158 H.
Kitab yang pertama sebenarnya memiliki format penyusunan yang berbeda dengan bentuk gabungannya. Maka, dilatari format aslinya yang agak sukar dipergunakan, sementara isinya sangat penting, Syekh Baitullah Bayyat pun berinisiatif mengedit ulang karya tersebut dan mengurutkannya secara alfabetis. Ada lima hal yang beliau pegang dalam proses tersebut, yaitu: (1) membiarkan kandungan aslinya tetap terjaga sebagaimana semula, kecuali muqaddimah yang sengaja dibuang; (2) membuang perulangan, dan jika terjadi perulangan, maka cukup diberikan rujukan kepada entri yang mengulangnya, baik sebelum maupun sesudahnya; (3) tidak memperhatikan akar kata dalam mengurutkan entrinya; (4) merujukkan ayat-ayat yang disitir di dalamnya; (5) berpegang kepada naskah lain yang diterbitkan oleh Maktabah Bashiratiy.
Pada pengantar edisi gabungan ini, dinyatakan pentingnya mengetahui perbedaan-perbedaan kebahasaan yang menjadi pokok kajiannya, sbb: “…diantara ilmu-ilmu penting dalam bahasa Arab yang sangat diperhatikan oleh para pakar bahasa, baik di zaman klasik maupun modern, adalah ilmu tentang perbedaan-perbedaan kebahasaan, yakni ilmu yang memilah perbedaan kosakata-kosakata yang maknanya saling berdekatan dan terkesan sama (sinonim) jika dilihat secara sepintas. Inilah persoalan yang mendorong para pakar bahasa di masa silam untuk menyusun kitab-kitab tersendiri yang mengulas topik tersebut…”
Tentu saja, seperti umumnya kamus-kamus klasik, isinya cukup detil. Jika Anda menginginkan pemahaman yang utuh terhadap pengertian berbagai istilah yang sekilas mirip, maka Anda harus tekun dan cukup sabar memahami setiap entri yang terkait dengannya, yang menyebar di beberapa tempat. Tetapi, Anda tidak perlu khawatir, karena entri-entri terkait tersebut sudah diberikan rujukan nomornya, sehingga cukup mudah ditelusuri. Dan, jika istilah-istilah yang berbeda namun maknanya sangat dekat tersebut sudah Anda temukan, lalu Anda bandingkan satu sama lain, Anda pun akan memahami keindahan bahasa Arab. Pada gilirannya, Anda pun akan mengerti mengapa bahasa Arab terpilih sebagai bahasa Al-Qur’an.
Untuk memberi gambaran lebih baik, berikut ini kami kutipkan contoh-contoh analisis perbedaan makna kata yang disajikan di dalamnya. Kami memilih kosakata-kosakata yang biasanya diterjemahkan dengan “menciptakan, menjadikan, mengadakan, mewujudkan” dalam bahasa Indonesia, yaitu: khalaqa, bara’a, dzara’a, fathara, ansya’a, ikhtara’a, bada’a, dan dari sini pula akar kata dari asma-asma Allah: al-khaliq, al-bariy, al-badi’, dll. Ada juga beberapa kata lain yang maknanya sangat dekat dengan istilah-istilah diatas, yaitu ja’ala, kasaba, fa’ala, dan ‘amila.
Untuk menambah wawasan makna, Anda dapat pula meneliti penggunaan masing-masing istilah diatas dalam Al-Qur’an. Misalnya, kata dzara’a disebutkan dalam surah al-A’raf: 179; lalu fathara dalam pembukaan surah Fathir, dst.
Istilah-istilah berikut ini diurutkan mulai dari nomor entri terkecilnya.

18 - ุงู„ูุฑู‚ ุจูŠู† ุงู„ุงุฎุชุฑุงุน ูˆุงู„ุงุจุชุฏุงุน : ุฃู† ุงู„ุงุจุชุฏุงุน ุฅูŠุฌุงุฏ ู…ุง ู„ู… ูŠุณุจู‚ ุฅู„ู‰ ู…ุซู„ู‡ ูŠู‚ุงู„ ุฃุจุฏุน ูู„ุงู† ุฅุฐุง ุฃุชู‰ ุจุงู„ุดุฆ ุงู„ุบุฑูŠุจ ูˆุฃุจุฏุนู‡ ุงู„ู„ู‡ ูู‡ูˆ ู…ุจุฏุน ูˆุจุฏูŠุน ูˆู…ู†ู‡ ู‚ูˆู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ " ุจุฏูŠุน ุงู„ุณู…ูˆุงุช ูˆุงู„ุงุฑุถ " (ุงู„ุจู‚ุฑุฉ : 117) ูˆูุนูŠู„ ู…ู† ุฃูุนู„ ู…ุนุฑูˆู ููŠ ุงู„ุนุฑุจูŠุฉ ูŠู‚ุงู„ ุจุตูŠุฑ ู…ู† ุฃุจุตุฑ ูˆุญู„ูŠู… ู…ู† ุฃุญู„ู…، ูˆุงู„ุจุฏุนุฉ ููŠ ุงู„ุฏูŠู† ู…ุฃุฎูˆุฐุฉ ู…ู† ู‡ุฐุง ูˆู‡ูˆ ู‚ูˆู„ ู…ุง ู„ู… ูŠุนุฑู ู‚ุจู„ู‡ ูˆู…ู†ู‡ ู‚ูˆู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ " ู…ุง ูƒู†ุช ุจุฏุนุง ู…ู† ุงู„ุฑุณู„ " (ุงู„ุงุญู‚ุงู : 9) ูˆู‚ุงู„ ุฑุคุจุฉ: ูˆู„ูŠุณ ูˆุฌู‡ ุงู„ุญู‚ ุฃู† ูŠุจุฏุนุง
Artinya: 18 – Perbedaan antara al-ikhtira’ dengan al-ibtida’. Al-ibtida’ adalah mewujudkan sesuatu yang belum ada padanan semisalnya sebelum itu. Dikatakan abda’a fulan jika dia mendatangkan sesuatu yang asing. Dikatakan pula abda’ahu-llahu, maka Dia adalah mubdi’ dan badi’ (yang menciptakan sesuatu tanpa contoh sebelumnya). Dari sinilah firman Allah: badi’us samawati wal ardhi (Qs. al-Baqarah: 117), artinya: Dialah (Allah) yang menciptakan langit dan bumi (tanpa contoh sebelumnya). Bentuk fa’il berasal dari af’ala, sudah terkenal dalam bahasa Arab. Dikatakan bashiir berasal dari abshara, dan haliim dari ahlama. Istilah bid’ah dalam agama diambil  dari sini, yaitu suatu perkataan yang tidak dikenal sebelumnya. Dari sini pula firman Allah: ma kuntu bid’an minar rusuli (Qs. al-Ahqaf: 9), artinya: aku bukanlah seorang Rasul yang samasekali baru (yang tidak ada duanya sebelumnya).  Ru’bah berkata, “Wajah kebenaran itu tidaklah baru.” – yakni: sudah dikenal sebelumnya.

19 - ุงู„ูุฑู‚ ุจูŠู† ุงู„ุงุจุชุฏุงุน ูˆุงู„ุงุฎุชุฑุงุน : ู‚ุงู„ ุงู„ุฌูˆู‡ุฑูŠ ุฃุจุฏุนุช ุงู„ุดุฆ : ุงุฎุชุฑุนุชู‡. ูˆู‚ุงู„ ุงู„ุฒู…ุฎุดุฑูŠ ููŠ ุงู„ุงุณุงุณ : ุงุฎุชุฑุน ุงู„ู„ู‡ ุงู„ุงุดูŠุงุก : ุงุจุชุฏุนู‡ุง ู…ู† ุบูŠุฑ ุณุจุจ. ุงู†ุชู‡ู‰. ูˆุฎุต ุจุนุถู‡ู… ุงู„ุงุจุชุฏุงุน ุจุงู„ุงูŠุฌุงุฏ ู„ุง ู„ุนู„ุฉ، ูˆุงู„ุงุฎุชุฑุงุน ุจุงู„ุงูŠุฌุงุฏ ู„ุง ู…ู† ุดุฆ ูˆูŠุคูŠุฏู‡ ู…ุง ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุตุฏูˆู‚ - ุทุงุจ ุซุฑุงู‡ - ููŠ ูƒุชุงุจ ุงู„ุชูˆุญูŠุฏ ู…ู† ุจุงุจ ุฃู†ู‡ ุนุฒูˆุฌู„ ู„ูŠุณ ุจุฌุณู… ูˆู„ุง ุตูˆุฑุฉ. ู…ุณู†ุฏุง ุนู† ู…ุญู…ุฏ ุจู† ุฒูŠุฏ ู‚ุงู„: ุฌุฆุช ุฅู„ู‰ ุงู„ุฑุถุง ุนู„ูŠู‡ ุงู„ุณู„ุงู… ุฃุณุฃู„ู‡ ุนู† ุงู„ุชูˆุญูŠุฏ ูุฃู…ู„ู‰ ุนู„ูŠ: " ุงู„ุญู…ุฏ ู„ู„ู‡ ูุงุทุฑ ุงู„ุงุดูŠุงุก ูˆู…ู†ุดุฆู‡ุง ุฅู†ุดุงุก، ูˆู…ุจุชุฏุนู‡ุง ุงุจุชุฏุงุก ุจู‚ุฏุฑุชู‡ ูˆุญูƒู…ุชู‡، ู„ุง ู…ู† ุดุฆ ููŠุจุทู„ ุงู„ุงุฎุชุฑุงุน، ูˆู„ุง ู„ุนู„ุฉ ูู„ุง ูŠุตุญ ุงู„ุงุจุชุฏุงุน "..ุงู„ุญุฏูŠุซ. ูุฎุต ุนู„ูŠู‡ ุงู„ุณู„ุงู… ุงู„ุงุฎุชุฑุงุน ุจุงู„ุงูŠุฌุงุฏ ู„ุง ู…ู† ุดุฆ، ูˆุงู„ุงุจุชุฏุงุน ุจุงู„ุงูŠุฌุงุฏ ู„ุง ู„ุนู„ุฉ. (ุงู„ู„ุบุงุช)
Artinya: 19 – Perbedaan antara al-ibtida’ dan al-ikhtira’. Al-Jauhari berkata, “Abda’tu asy-syai’a yaitu ikhtara’tuhu.” Az-Zamakhsyari berkata dalam al-Asas, “Ikhtara’allahu al-asyya’a, yaitu Dia mewujudkannya dengan tanpa suatu sebab.” Selesai. Sebagian orang mengkhususkan makna al-ibtida’ sebagai: mewujudkan (sesuatu) tanpa suatu sebab, sedangkan al-ikhtira’ adalah mewujudkan (sesuatu) tanpa bahan dari sesuatu yang lain. Hal ini dikuatkan oleh riwayat yang dikutip oleh ash-Shaduq – yakni, Syaikh Abu Ja’far bin Muhammad bin ‘Ali bin al-Husain bin Babawaih al-Qummi (w. 381), semoga Allah melapangkan kuburnya – di dalam kitab at-Tauhid, dari bab: Allah bukanlah jisim dan bukan pula bentuk, yang riwayatnya disandarkan sumbernya dari Muhammad bin Zaid; dia berkata: saya mendatangi Imam ar-Ridha, saya bertanya kepada beliau tentang tauhid, maka beliau mendiktekan kepada saya, sbb: segala puji bagi Allah, fathir (pencipta) dari segala sesuatu, Dzat yang menumbuhkannya tahap demi tahap, yang menciptakannya (mubdi’) untuk pertamakali dengan kuasa dan hikmah-Nya; tidak dari sesuatu bahan sehingga akan membatalkan al-ikhtira’, dan tidak pula karena suatu sebab sehingga tidak sah pula al-ibtida’…dst.” Maka, beliau mengkhususkan al-ikhtira’ sebagai mewujudkan (sesuatu) tidak dari sesuatu bahan, sedangkan al-ibtida’ dengan mewujudkan (sesuatu) tidak didorong suatu sebab.” – al-Lughat.
[*] Dalam bahasa Arab, kata as-sabab bisa bermakna: motif, alasan, sebab, wasilah/perantaraan, asal/sumber, tangga, jalan, pengantar, tali, kehidupan.

316 - ุงู„ูุฑู‚ ุจูŠู† ุงู„ุงู†ุดุงุก ูˆุงู„ูุนู„ : ุฃู† ุงู„ุงู†ุดุงุก ู‡ูˆ ุงู„ุงุญุฏุงุซ ุญุงู„ุง ุจุนุฏ ุญุงู„ ู…ู† ุบูŠุฑ ุงุญุชุฐุงุก ุนู„ู‰ ู…ุซุงู„ ูˆู…ู†ู‡ ูŠู‚ุงู„ ู†ุดุฃ ุงู„ุบู„ุงู… ูˆู‡ู‰ ู†ุงุดุฆ ุฅุฐุง ู†ู…ุง ูˆุฒุงุฏ ุดูŠุฆุง ูุดูŠุฆุง ูˆุงู„ุงุณู… ุงู„ู†ุดูˆุก، ูˆู‚ุงู„ ุจุนุถู‡ู… ุงู„ุงู†ุดุงุก ุฅุจุชุฏุงุก ุงู„ุงูŠุฌุงุฏ ู…ู† ุบูŠุฑ ุณุจุจ، ูˆุงู„ูุนู„ ูŠูƒูˆู† ุนู† ุณุจุจ ูƒุฐู„ูƒ ุงู„ุงุญุฏุงุซ ูˆู‡ูˆ ุฅูŠุฌุงุฏ ุงู„ุดุฆ ุจุนุฏ ุฃู† ู„ู… ูŠูƒู† ูˆูŠูƒูˆู† ุจุณุจุจ ูˆุจุบูŠุฑ ุณุจุจ، ูˆุงู„ุงู†ุดุงุก ู…ุง ูŠูƒูˆู† ู…ู† ุบูŠุฑ ุณุจุจ ูˆุงู„ูˆุฌู‡ ุงู„ุงูˆู„ ุฃุฌูˆุฏ.

Artinya: 316 – Perbedaan antara al-insya’ dan al-fi’lu. Al-insya’ adalah memperbaharui tahap demi tahap tanpa bersandar kepada contoh. Dikatakan nasya’al ghulam, dia disebut nasyi’, apabila dia tumbuh dan bertambah sedikit demi sedikit. Kata bendanya adalah an-nusyu’ (yang masih dalam masa pertumbuhan). Sebagian orang mengatakan bahwa al-insya’ adalah mengadakan sesuatu tanpa dilatari sesuatu sebab, sedangkan al-fi’lu terjadi karena dorongan suatu sebab. Demikian pula al-ihdats, yaitu mengadakan sesuatu setelah sebelumnya ia tidak ada, dan ia bisa terjadi baik dengan atau tanpa sebab, sedangkan al-insya’ adalah apa yang terjadi tanpa dilatari suatu sebab. Versi pertama tadi lebih bagus.

379 - ุงู„ูุฑู‚ ุจูŠู† ุงู„ุจุฑุก ูˆุงู„ุฎู„ู‚ : ุฃู† ุงู„ุจุฑุก ู‡ูˆ ุชู…ูŠูŠุฒ ุงู„ุตูˆุฑุฉ ูˆู‚ูˆู„ู‡ู… ุจุฑุฃ ุงู„ู„ู‡ ุงู„ุฎู„ู‚ ุฃูŠ ู…ูŠุฒ ุตูˆุฑู‡ู…، ูˆุฃุตู„ู‡ ุงู„ู‚ุทุน ูˆู…ู†ู‡ ุงู„ุจุฑุงุกุฉ ูˆู‡ูŠ ู‚ุทุน ุงู„ุนู„ู‚ุฉ ูˆุจุฑุฆุช ู…ู† ุงู„ู…ุฑุถ ูƒุฃู†ู‡ ุงู†ู‚ุทุนุช ุฃุณุจุงุจู‡ ุนู†ูƒ ูˆุจุฑุฆุช ู…ู† ุงู„ุฏูŠู† ูˆุจุฑุฃ ุงู„ู„ุญู… ู…ู† ุงู„ุนุธู… ู‚ุทุนู‡ ูˆุชุจุฑุฃ ู…ู† ุงู„ุฑุฌู„ ุฅุฐุง ุงู†ู‚ุทุนุช ุนุตู…ุชู‡ ู…ู†ู‡.
Artinya: 379 – Perbedaan antara al-bar’u dan al-khalqu. Al-bar’u adalah memilah/membeda-bedakan bentuk (fisik). Mereka mengatakan: bara’allahu al-khalqa, artinya: Allah memilah/membeda-bedakan bentuk makhluk-Nya. Aslinya, al-bar’u berarti memotong. Dari sinilah asal istilah al-bara’ah (berlepas diri), yaitu memutuskan perhubungan; bari’tu minal maradhi (saya sembuh dari sakit), seakan-akan sebab-sebab penyakit itu terputus darimu; bari’tu minad dayn (saya terbebeas dari hutang); bari’al lahmu minal ‘azhmi (daging terlepas dari tulang), yakni dia memotongnya; dan tabarra’a minar rajuli (dia berlepas diri dari orang itu), yakni jika dia memutuskan perlindungan yang diberikannya kepada orang itu.

874 - ุงู„ูุฑู‚ ุจูŠู† ุงู„ุฎู„ู‚ ูˆุงู„ุชุบูŠูŠุฑ ูˆุงู„ูุนู„: ุฃู† ุงู„ุฎู„ู‚ ููŠ ุงู„ู„ุบุฉ ุงู„ุชู‚ุฏูŠุฑ ูŠู‚ุงู„ ุฎู„ู‚ุช ุงู„ุงุฏูŠู… ุฅุฐุง ู‚ุฏุฑุชู‡ ุฎูุง ุฃูˆ ุบูŠุฑู‡ ูˆุฎู„ู‚ ุงู„ุซูˆุจ ูˆุฃุฎู„ู‚ ู„ู… ูŠุจู‚ ู…ู†ู‡ ุฅู„ุง ุชู‚ุฏูŠุฑู‡، ูˆุงู„ุฎู„ู‚ุงุก ุงู„ุตุฎุฑุฉ ุงู„ู…ู„ุณุงุก ู„ุงุณุชูˆุงุก ุฃุฌุฒุงุฆู‡ุง ููŠ ุงู„ุชู‚ุฏูŠุฑ ูˆุงุฎู„ูˆู„ู‚ ุงู„ุณุญุงุจ ุงุณุชูˆู‰ ูˆุงู†ู‡ ู„ุฎู„ูŠู‚ ุจูƒุฐุง ุฃูŠ ุดุจูŠู‡ ุจู‡ ูƒุฃู† ุฐู„ูƒ ู…ู‚ุฏุฑ ููŠู‡، ูˆุงู„ุฎู„ู‚ ุงู„ุนุงุฏุฉ ุงู„ุชูŠ ูŠุนุชุงุฏู‡ุง ุงู„ุงู†ุณุงู† ูˆูŠุฃุฎุฐ ู†ูุณู‡ ุจู‡ุง ุนู„ู‰ ู…ู‚ุฏุงุฑ ุจุนูŠู†ู‡، ูุฅู† ุฒุงู„ ุนู†ู‡ ุฅู„ู‰ ุบูŠุฑู‡ ู‚ูŠู„ ุชุฎู„ู‚ ุจุบูŠุฑ ุฎู„ู‚ู‡، ูˆููŠ ุงู„ู‚ุฑุขู† " ุฅู† ู‡ุฐุง ุฅู„ุง ุฎู„ู‚ ุงู„ุงูˆู„ูŠู† " (ุงู„ุดุนุฑุงุก : 137) ู‚ุงู„ ุงู„ูุฑุงุก ูŠุฑูŠุฏ ุนุงุฏุชู‡ู…. ูˆุงู„ู…ุฎู„ู‚ ุงู„ุชุงู… ุงู„ุญุณู† ู„ุงู†ู‡ ู‚ุฏุฑ ุชู‚ุฏูŠุฑุง ุญุณู†ุง، ูˆุงู„ู…ุชุฎู„ู‚ ุงู„ู…ุนุชุฏู„ ููŠ ุทุจุงุนู‡، ูˆุณู…ุน ุจุนุถ ุงู„ูุตุญุงุก ูƒู„ุงู…ุง ุญุณู†ุง ูู‚ุงู„ ู‡ุฐุง ูƒู„ุงู… ู…ุฎู„ูˆู‚، ูˆุฌู…ูŠุน ุฐู„ูƒ ูŠุฑุฌุน ุฅู„ู‰ ุงู„ุชู‚ุฏูŠุฑ، ูˆุงู„ุฎู„ูˆู‚ ู…ู† ุงู„ุทูŠุจ ุฃุฌุฒุงุก ุฎู„ุทุช ุนู„ู‰ ุชู‚ุฏูŠุฑ، ูˆุงู„ู†ุงุณ ูŠู‚ูˆู„ูˆู† ู„ุง ุฎุงู„ู‚ ุฅู„ุง ุงู„ู„ู‡ ูˆุงู„ู…ุฑุงุฏ ุฃู† ู‡ุฐุง ุงู„ู„ูุธ ู„ุง ูŠุทู„ู‚ ุฅู„ุง ู„ู„ู‡ ุฅุฐ ู„ูŠุณ ุฃุญุฏ ุฅู„ุง ูˆููŠ ูุนู„ู‡ ุณู‡ูˆ ุฃูˆ ุบู„ุท ูŠุฌุฑูŠ ู…ู†ู‡ ุนู„ู‰ ุบูŠุฑ ุชู‚ุฏูŠุฑ ุบูŠุฑ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ูƒู…ุง ุชู‚ูˆู„ ู„ุง ู‚ุฏูŠู… ุฅู„ุง ุงู„ู„ู‡ ูˆุฅู† ูƒู†ุง ู†ู‚ูˆู„ ู‡ุฐุง ู‚ุฏูŠู… ู„ุงู†ู‡ ู„ูŠุณ ูŠุตุญ ู‚ูˆู„ ู„ู… ูŠุฒู„ ู…ูˆุฌูˆุฏุง ุฅู„ุง ุงู„ู„ู‡.
Artinya: 874 – Perbedaan antara al-khalqu (menciptakan), at-taghyiru (mengubah) dan al-fi’lu (melakukan). Al-khalqu secara bahasa berarti menentukan ukuran/mengatur bentuk. Dikatakan: khalaqtul adim (saya mengatur kulit) jika saya mengaturnya menjadi sepatu atau benda lainnya. Dikatakan khaliqa ats-tsaubu dan akhlaqa ats-tsaubu (baju menjadi usang) jika tidak tersisa dari baju itu selain bentuknya saja. Al-khalqa’ adalah padang gurun yang luas dan datar, karena bagian-bagiannya sama ukuran/bentuknya. Ikhlawlaqa as-sahab artinya mendung itu merata. Dikatakan innahu la-khaliqun bi-kadza maksudnya dia sangat mirip dengannya, seakan-akan dia itu diatur/ditentukan bentuknya padanya. Al-khalqu adalah adat yang biasa dilakukan manusia dan dia menampilkan dirinya dengan kebiasaan itu diatas kadar tertentu secara sama persis, dan jika dia bergeser dari kadar tersebut kepada yang lain, maka dikatakan takhallaqa bi ghairi khalqihi (dia bertindak di luar kebiasaannya). Di dalam Al-Qur’an dikatakan: in hadza illa khuluqul awwalin (Qs. asy-Syu’ara’: 137) – artinya: ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang dahulu – menurut al-Farra’, maksudnya adalah: adat kebiasaan mereka. Al-mukhliq artinya sempurna kebagusannya, karena dia telah diatur dengan pengatur sebaik-baiknya. Al-mukhtaliq adalah orang yang baik/lurus tabiatnya. Ada seorang ahli hikmah yang mendengar perkataan yang bagus, maka dia berkomentar, “Ini adalah perkataan yang bagus sekali (kalamun makhluq).” Semua itu maknanya kembali kepada at-taqdir (pengaturan). Al-khaluq dari minyak wangi artinya bagian-bagian minyak wangi yang dicampur dengan ukuran tertentu. Orang-orang mengatakan la khaliqa illallah (tidak ada Sang Pencipta selain Allah), maksudnya: lafazh ini tidak dipergunakan kecuali hanya untuk Allah, sebab tidak seorang pun melainkan pada perbuatannya pasti terdapat kelalaian atau kekeliruan, yang terjadi darinya dengan tanpa pengaturannya, selain Allah ta’ala; sebagaimana Anda mengatakan: la qadima illallah (tidak ada yang terdahulu selain Allah), meskipun kita biasa mengatakan hadza qadim (ini sudah lama), sebab tidak bisa dibenarkan untuk dikatakan sebagai selalu eksis/ada selain Allah.

939 - ุงู„ูุฑู‚ ุจูŠู† ุงู„ุฐุฑุก ูˆุงู„ุฎู„ู‚: ุฃู† ุฃุตู„ ุงู„ุฐุฑุก ุงู„ุงุธู‡ุงุฑ ูˆู…ุนู†ู‰ ุฐุฑุฃ ุงู„ู„ู‡ ุงู„ุฎู„ู‚ ุฃุธู‡ุฑู‡ู… ุจุงู„ุงูŠุฌุงุฏ ุจุนุฏ ุงู„ุนุฏู…، ูˆู…ู†ู‡ ู‚ูŠู„ ู„ู„ุจูŠุงุถ ุงู„ุฐุฑุฃุฉ ู„ุธู‡ูˆุฑู‡ ูˆุดู‡ุฑุชู‡ ูˆู…ู„ุญ ุฐุฑุขู†ูŠ ู„ุจูŠุงุถู‡ ูˆุงู„ุฐุฑูˆ ุจู„ุง ู‡ู…ุฒุฉ ุงู„ุชูุฑู‚ุฉ ุจูŠู† ุงู„ุดูŠุฆูŠู†، ูˆู…ู†ู‡ ู‚ูˆู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ " ุชุฐุฑูˆู‡ ุงู„ุฑูŠุงุญ " (ุงู„ูƒู‡ู : 45) ูˆู„ูŠุณ ู…ู† ู‡ุฐุง ุฐุฑูŠุช ุงู„ุญู†ุทุฉ ูุฑู‚ุช ุนู†ู‡ุง ุงู„ุชุจู†
Artinya: 939 – Perbedaan antara adz-dzar’u dan al-khalqu. Makna asli adz-dzar’u adalah menampakkan. Arti dari dzara’allahu al-khalqa adalah Allah menampakkan mereka dengan cara membuat mereka ada sesudah sebelumnya tidak ada. Dari sini, warna putih disebut adz-dzar’ah, karena dia sangat tampak dan terkenal; dan milhun dzar’aniy (garam yang putih bersih), karena sangat putih. Sedangkan kata adz-dzarwu (tanpa hamzah) artinya memisahkan diantara dua hal. Dari sinilah firman Allah: tadzruuhur riyaah (Qs. al-Kahfi: 45), artinya: diterbangkan oleh angin. Kata dzaraytu al-hinthah tidak berasal dari sini, yang artinya: saya memisahkan jerami dari biji gandum.

1517 - ุงู„ูุฑู‚ ุจูŠู† ุงู„ุนู…ู„ ูˆุงู„ุฌุนู„ : ุฃู† ุงู„ุนู…ู„ ู‡ูˆ ุฅูŠุฌุงุฏ ุงู„ุงุซุฑ ููŠ ุงู„ุดุฆ ุนู„ู‰ ู…ุง ุฐูƒุฑู†ุง (ููŠ ุงู„ุนุฏุฏ: 1518)، ูˆุงู„ุฌุนู„ ุชุบูŠูŠุฑ ุตูˆุฑุชู‡ ุจุงูŠุฌุงุฏ ุงู„ุงุซุฑ ููŠู‡ ูˆุจุบูŠุฑ ุฐู„ูƒ، ุฃู„ุง ุชุฑู‰ ุฃู†ูƒ ุชู‚ูˆู„ ุฌุนู„ ุงู„ุทูŠู† ุฎุฒูุง ูˆุฌุนู„ ุงู„ุณุงูƒู† ู…ุชุญุฑูƒุง ูˆุชู‚ูˆู„ ุนู…ู„ ุงู„ุทูŠู† ุฎุฒูุง ูˆู„ุง ุชู‚ูˆู„ ุนู…ู„ ุงู„ุณุงูƒู† ู…ุชุญุฑูƒุง ู„ุงู† ุงู„ุญุฑูƒุฉ ู„ูŠุณุช ุจุฃุซุฑ ูŠุคุซุฑ ุจู‡ ููŠ ุงู„ุดุฆ، ูˆุงู„ุฌุนู„ ุฃูŠุถุง ูŠูƒูˆู† ุจู…ุนู†ู‰ ุงู„ุงุญุฏุงุซ ูˆู‡ูˆ ู‚ูˆู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ " ูˆุฌุนู„ ุงู„ุธู„ู…ุงุช ูˆุงู„ู†ูˆุฑ " (ุงู„ุงู†ุนุงู…: 1) ูˆู‚ูˆู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ " ูˆุฌุนู„ ู„ูƒู… ุงู„ุณู…ุน ูˆุงู„ุงุจุตุงุฑ " (ุงู„ุณุฌุฏุฉ: 9) ูˆูŠุฌูˆุฒ ุฃู† ูŠู‚ุงู„ ุฅู† ุฐู„ูƒ ูŠู‚ุชุถูŠ ุฃู†ู‡ ุฌุนู„ู‡ุง ุนู„ู‰ ู‡ุฐู‡ ุงู„ุตูุฉ ุงู„ุชูŠ ู‡ูŠ ุนู„ูŠู‡ุง ูƒู…ุง ุชู‚ูˆู„ ุฌุนู„ุช ุงู„ุทูŠู† ุฎุฒูุง، ูˆุงู„ุฌุนู„ ุฃูŠุถุง ูŠุฏู„ ุนู„ู‰ ุงู„ุงุชุตุงู„ ูˆู„ุฐู„ูƒ ุฌุนู„ ุทุฑูุง ู„ู„ูุนู„ ูุชุณุชูุชุญ ุจู‡ ูƒู‚ูˆู„ูƒ ุฌุนู„ ูŠู‚ูˆู„ ูˆุฌุนู„ ูŠู†ุดุฏ ู‚ุงู„ ุงู„ุดุงุนุฑ:
ูุงุฌุนู„ ุชุญู„ู„ูƒ ู…ู† ูŠู…ูŠู†ูƒ ุฅู†ู…ุง * ุญู†ุซ ุงู„ูŠู…ูŠู† ุนู„ู‰ ุงู„ุงุซูŠู… ุงู„ูุงุฌุฑ
ูุฏู„ ุนู„ู‰ ุชุญู„ู„ ุดูŠุฆุง ุจุนุฏ ุดุฆ، ูˆุฌุงุก ุฃูŠุถุง ุจู…ุนู†ู‰ ุงู„ุฎุจุฑ ููŠ ู‚ูˆู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ " ูˆุฌุนู„ูˆุง ุงู„ู…ู„ุงุฆูƒุฉ ุงู„ุฐูŠู† ู‡ู… ุนุจุงุฏ ุงู„ุฑุญู…ู† ุงู†ุงุซุง " (ุงู„ุฒุฎุฑู: 19) ุฃูŠ ุฃุฎุจุฑูˆุง ุจุฐู„ูƒ، ูˆุจู…ุนู†ู‰ ุงู„ุญูƒู… ููŠ ู‚ูˆู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ " ุฃุฌุนู„ุชู… ุณู‚ุงูŠุฉ ุงู„ุญุงุฌ " (ุงู„ุชูˆุจุฉ: 19) ุฃูŠ ุญูƒู…ุชู… ุจุฐู„ูƒ، ูˆู…ุซู„ู‡ ุฌุนู„ู‡ ุงู„ู„ู‡ ุญุฑุงู…ุง ูˆุฌุนู„ู‡ ุญู„ุงู„ุง ุฃูŠ ุญูƒู… ุจุชุญู„ูŠู„ู‡ ูˆุชุญุฑูŠู…ู‡، ูˆุฌุนู„ุช ุงู„ู…ุชุญุฑูƒ ู…ุชุญุฑูƒุง ุฃูŠ ุฌุนู„ุช ู…ุงู„ู‡ ุตุงุฑ ู…ุชุญุฑูƒุง، ูˆู„ู‡ ูˆุฌูˆู‡ ูƒุซูŠุฑุฉ ุฃูˆุฑุฏู†ุงู‡ุง ููŠ ูƒุชุงุจ ุงู„ูˆุฌูˆู‡ ูˆุงู„ู†ุธุงุฆุฑ، ูˆุงู„ุฌุนู„ ุฃุตู„ ุงู„ุฏู„ุงู„ุฉ ุนู„ู‰ ุงู„ูุนู„ ู„ุงู†ูƒ ุชุนู„ู…ู‡ ุถุฑูˆุฑุฉ ูˆุฐู„ูƒ ุฃู†ูƒ ุฅุฐุง ุฑุฃูŠุช ุฏุงุฑุง ู…ู‡ุฏู…ุฉ ุซู… ุฑุฃูŠุชู‡ุง ู…ุจู†ูŠุฉ ุนู„ู…ุช ุงู„ุชุบูŠุฑ ุถุฑูˆุฑุฉ ูˆู„ู… ุชุนู„ู… ุญุฏูˆุซ ุดุฆ ุฅู„ุง ุจุงู„ุงุณุชุฏู„ุงู„
Artinya: 1517 – Perbedaan antara al-‘amal dengan al-ja’lu. Al-‘amal adalah mengadakan pengaruh/efek pada sesuatu, sebagaimana telah kami sebutkan (yakni, pada entri no. 1518); sedangkan al-ja’lu adalah mengubah bentuknya dengan mengadakan suatu pengaruh/efek padanya dan juga dengan selainnya. Tidakkah Anda melihat bahwa Anda mengatakan: dia mengubah (ja’ala) tanah menjadi porselen, dan dia mengubah sesuatu yang diam menjadi bergerak. Anda bisa mengatakan: dia mengerjakan (‘amila) tanah menjadi porselen, tetapi Anda tidak bisa mengatakan: dia mengerjakan (‘amila) sesuatu yang diam menjadi bergerak, sebab gerakan bukan sebuah efek yang membekas pada sesuatu itu. Al-ja’lu juga bisa bermakna mengadakan sesuatu yang baharu, yaitu dalam firman Allah, “Dia menjadikan kegelapan dan cahaya” (Qs. al-An’am: 1) dan firman-Nya, “Dia menjadikan untuk kalian pendengaran dan penglihatan” (Qs. as-Sajdah: 9). Bisa juga dikatakan bahwa hal itu mengharuskan dijadikannya sesuatu diatas sifat yang sekarang menjadi sifatnya, sebagaimana Anda mengatakan: saya mengubah tanah tanah menjadi porselen. Al-ja’lu juga menunjukkan adanya pertalian. Oleh karenanya ia dijadikan sebagai tepi/permulaan dari suatu kata kerja, dimana kata kerja itu diawali dengannya. Anda bisa mengatakan: ja’ala yaqulu (dia mulai berkata) dan ja’ala yunsyidu (dia mulai menyenandungkan syair). Seorang penyair berkata, “Lakukanlah pembatalan terhadap sumpahmu, sesungguhnya pelanggaran sumpah itu hanya dilakukan oleh seorang pendosa lagi durjana.” Syair ini menunjukkan pelepasan sedikit demi sedikit. Kata al-ja’lu juga bermakna berita, di dalam firman Allah, “Mereka menjadikan para malaikat – yang mana mereka adalah hamba-hamba Allah yang Maha Pengasih – sebagai berjenis kelamin wanita” (Qs. az-Zukhruf: 19), maksudnya: mereka mengabarkan yang seperti itu. Kata al-ja’lu juga berarti menghukumi, dalam firman Allah, “Apakah kalian menjadikan pemberian minum kepada jamaah haji…” (Qs. at-Taubah: 19), maksudnya: kalian menghukumi seperti itu. Yang semisal dengannya adalah ja’alahu-llahu haraman wa ja’alahu halalan (Allah menjadikannya haram dan menjadikanya halal), maksudnya: Allah menghukumi kehalalan dan keharamannya. Ja’altu al-mutaharrika mutaharrikan, maksudnya saya mengubahnya hartanya menjadi bergerak. Ada banyak sekali aspek makna dari kata ini. Kami telah mencantumkannya dalam kitab al-Wujuh wan Nazha’ir. Al-ja’lu (perubahan) adalah petunjuk pokok atas adanya suatu perbuatan, sebab Anda mengetahui hal itu secara pasti. Hal itu terjadi jika Anda melihat sebuah rumah yang telah menjadi reruntuhan, kemudian Anda melihatnya telah tegak terbangun kembali, maka Anda tahu secara pasti adanya suatu perubahan. Namun, Anda tidak bisa mengetahui terjadinya sesuatu yang baharu (yakni, yang sebelumnya tidak ada) kecuali melalui pencarian dalil-dalil.

1518 - ุงู„ูุฑู‚ ุจูŠู† ุงู„ุนู…ู„ ูˆุงู„ูุนู„ : ุฃู† ุงู„ุนู…ู„ ุฅูŠุฌุงุฏ ุงู„ุงุซุฑ ููŠ ุงู„ุดุฆ ูŠู‚ุงู„ ูู„ุงู† ูŠุนู…ู„ ุงู„ุทูŠู† ุฎุฒูุง ูˆูŠุนู…ู„ ุงู„ุฎูˆุต ุฒู†ุจูŠู„ุง ูˆุงู„ุงุฏูŠู… ุณู‚ุงุก، ูˆู„ุง ูŠู‚ุงู„ ูŠูุนู„ ุฐู„ูƒ ู„ุงู† ูุนู„ ุฐู„ูƒ ุงู„ุดุฆ ู‡ูˆ ุฅูŠุฌุงุฏู‡ ุนู„ู‰ ู…ุง ุฐูƒุฑู†ุง (ููŠ ุงู„ุนุฏุฏ: 1635) ูˆู‚ุงู„ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ " ูˆุงู„ู„ู‡ ุฎู„ู‚ูƒู… ูˆู…ุง ุชุนู…ู„ูˆู† " (ุงู„ุชูˆุจุฉ:19) ุฃูŠ ุฎู„ู‚ูƒู… ูˆุฎู„ู‚ ู…ุง ุชุคุซุฑูˆู† ููŠู‡ ุจู†ุญุชูƒู… ุฅูŠุงู‡ ุฃูˆ ุตูˆุบูƒู… ู„ู‡، ูˆู‚ุงู„ ุงู„ุจู„ุฎูŠ ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰: ู…ู† ุงู„ุงูุนุงู„ ู…ุง ูŠู‚ุน ููŠ ุนู„ุงุฌ ูˆุชุนุจ ูˆุงุญุชูŠุงู„ ูˆู„ุง ูŠู‚ุงู„ ู„ู„ูุนู„ ุงู„ูˆุงุญุฏ ุนู…ู„، ูˆุนู†ุฏู‡ ุฃู† ุงู„ุตูุฉ ู„ู„ู‡ ุจุงู„ุนู…ู„ ู…ุฌุงุฒ، ูˆุนู†ุฏ ุฃุจูŠ ุนู„ูŠ ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡: ุฃู†ู‡ุง ุญู‚ูŠู‚ุฉ، ูˆุฃุตู„ ุงู„ุนู…ู„ ููŠ ุงู„ู„ุบุฉ ุงู„ุฏุคูˆุจ ูˆู…ู†ู‡ ุณู…ูŠุช ุงู„ุฑุงุญู„ุฉ ูŠุนู…ู„ุฉ ูˆู‚ุงู„ ุงู„ุดุงุนุฑ:
ูˆู‚ุงู„ูˆุง ู‚ู ูˆู„ุง ุชุนุฌู„ * ูˆุฅู† ูƒู†ุง ุนู„ู‰ ุนุฌู„
ู‚ู„ูŠู„ ููŠ ู‡ูˆุงูƒ ุงู„ูŠูˆ * ู… ู…ุง ู†ู„ู‚ู‰ ู…ู† ุงู„ุนู…ู„
ุฃูŠ ู…ู† ุงู„ุฏุคูˆุจ ููŠ ุงู„ุณูŠุฑ، ูˆู‚ุงู„ ุบูŠุฑู‡: * ูˆุงู„ุจุฑู‚ ูŠุญุฏุซ ุดูˆู‚ุง ูƒู„ู…ุง ุนู…ู„ุง *
ูˆูŠู‚ุงู„ ุนู…ู„ ุงู„ุฑุฌู„ ูŠุนู…ู„ ูˆุงุนุชู…ู„ ุฅุฐุง ุนู…ู„ ุจู†ูุณู‡ ูˆุฃู†ุดุฏ ุงู„ุฎู„ูŠู„:
ุฅู† ุงู„ูƒุฑูŠู… ูˆุฃุจูŠูƒ ูŠุนุชู…ู„ * ุฅู† ู„ู… ูŠุฌุฏ ูŠูˆู…ุง ุนู„ู‰ ู…ู† ูŠุชูƒู„
Artinya: 1518 – Perbedaan antara al-‘amal dan al-fi’lu. Al-‘amal adalah mewujudkan pengaruh/efek pada sesuatu. Dikatakan fulan ya’malu ath-thiina khazafan (si fulan mengerjakan tanah menjadi porselen); ya’malu al-khawsha zanbilan wal adiima siqaa’an (dia mengerjakan daun kurma menjadi keranjang dan tanah menjadi kendi tempat minum). Tidak bisa dikatakan dia yaf’alu (mengerjakan) hal-hal tersebut diatas, sebab (jika dikatakan) fa’ala dzalika asy-syai’ (dia melakukan sesuatu itu) maka maksudnya adalah mewujudkan sesuatu itu sebagaimana yang kami sebutkan (yakni, pada entri no. 1635). Allah berfirman, “Allah telah menciptakan kalian dan apa-apa yang kalian kerjakan” (Qs. at-Taubah: 19), yakni: Dia telah menciptakan kalian dan juga menciptakan apa yang kalian beri efek/pengaruh padanya dengan memahatnya, atau membentuknya (maksudnya: batu yang dipahat/dibentuk menjadi berhala). Al-Balakhi berkata, “Diantara perbuatan-perbuatan ada yang berlangsung dalam suatu upaya, kelelahan, dan rekadaya. Pekerjaan yang hanya satu saja tidak disebut sebagai ‘amal.” Menurut beliau, menyifat Allah dengan al-‘amal adalah kiasan, sedangkan menurut Abu ‘Ali adalah hakiki. Makna asli al-‘amal secara bahasa adalah tekun/terus-menurus/sungguh-sungguh; dari sinilah unta tunggangan disebut dengan ya’malah. Seorang penyair berkata, “Mereka mengatakan, berhentilah dan jangan tergesa-gesa; meskipun kita sedang terburu-buru. Sedikit yang sesuai keinginanmu yang kita jumpai hari ini, semuanya adalah hasil dari amal.” Maksudnya: hasil dari ketekunan dan kontinyuitas dalam berjalan. Penyair yang lain berkata, “Kilat itu akan mendatangkan kerinduan setiap kali itu terus-menerus muncul.” Dikatakan: ‘amila ar-rajulu wa i’tamala, yakni jika dia bekerja dengan dirinya sendiri. Al-Khalil menyenandungkan syair, “Sungguh, seorang bangsawan terhormat itu – demi ayahmu – pasti mau bekerja dengan dirinya sendiri, jika pada suatu hari dia tidak menemukan kepada siapa lagi bisa bersandar.”

1630 - ุงู„ูุฑู‚ ุจูŠู† ุงู„ูุทุฑ ูˆุงู„ูุนู„: ุฃู† ุงู„ูุทุฑ ุฅุธู‡ุงุฑ ุงู„ุญุงุฏุซ ุจุฅุฎุฑุงุฌู‡ ู…ู† ุงู„ุนุฏู… ุฅู„ู‰ ุงู„ูˆุฌูˆุฏ ูƒุฃู†ู‡ ุดู‚ ุนู†ู‡ ูุธู‡ุฑ، ูˆุฃุตู„ ุงู„ุจุงุจ ุงู„ุดู‚ ูˆู…ุน ุงู„ุดู‚ ุงู„ุธู‡ูˆุฑ ูˆู…ู† ุซู… ู‚ูŠู„ ุชูุทุฑ ุงู„ุดุฌุฑ ุฅุฐุง ุชุดู‚ู‚ ุจุงู„ูˆุฑู‚ ูˆูุทุฑุช ุงู„ุงู†ุงุก ุดู‚ู‚ุชู‡ ูˆูุทุฑ ุงู„ู„ู‡ ุงู„ุฎู„ู‚ ุฃุธู‡ุฑู‡ู… ุจุงูŠุฌุงุฏู‡ ุฅูŠุงู‡ู… ูƒู…ุง ูŠุธู‡ุฑ ุงู„ูˆุฑู‚ ุฅุฐุง ุชูุทุฑ ุนู†ู‡ ุงู„ุดุฌุฑ ูููŠ ุงู„ูุทุฑ ู…ุนู†ู‰ ู„ูŠุณ ููŠ ุงู„ูุนู„ ูˆู‡ูˆ ุงู„ุงุธู‡ุงุฑ ุจุงู„ุงุฎุฑุงุฌ ุฅู„ู‰ ุงู„ูˆุฌูˆุฏ ู‚ุจู„ ู…ุง ู„ุง ูŠุณุชุนู…ู„ ููŠู‡ ุงู„ุธู‡ูˆุฑ ูˆู„ุง ูŠุณุชุนู…ู„ ููŠู‡ ุงู„ูˆุฌูˆุฏ، ุฃู„ุง ุชุฑู‰ ุฃู†ูƒ ู„ุง ุชู‚ูˆู„ ุฅู† ุงู„ู„ู‡ ูุทุฑ ุงู„ุทุนุงู… ูˆุงู„ุฑุงุฆุญุฉ ูƒู…ุง ุชู‚ูˆู„ ูุนู„ ุฐู„ูƒ، ูˆู‚ุงู„ ุนู„ูŠ ุจู† ุนูŠุณู‰: ุงู„ูุงุทุฑ ุงู„ุนุงู…ู„ ู„ู„ุดุฆ ุจุงูŠุฌุงุฏู‡ ุจู…ุซู„ ุงู„ุงู†ุดู‚ุงู‚ ุนู†ู‡.
Artinya: 1630 – Perbedaan antara al-fathru dan al-fi’lu. Al-fathru adalah menampakkan sesuatu yang baharu dengan mengeluarkannya dari ketiadaan kepada keberadaan/wujud, seakan-akan dibelah sehingga menjadi terlihat. Bab aslinya adalah asy-syaqqu (membelah). Bersama dengan asy-syaqqu ini juga azh-zhuhur (tampak). Dari sana kemudian dikatakan tafaththara asy-syajar bila dia terbelah dengan (mengeluarkan) daun-daunan; fathartul inaa’a artinya saya memecahkan wadah itu; fatharallahu al-khalqa artinya Allah menampakkan makhluk dengan mengadakan mereka, sebagaimana tampaknya dedaunan bila pohon membelah dirinya (sehingga dedaunan bersemi darinya). Maka, dalam al-fathru terdapat makna yang tidak terdapat dalam al-fi’lu, yaitu menampakkan dengan mengeluarkannya ke dalam keberadaan/wujud, sebelum bisa dipergunakan padanya (istilah) tampak dan tidak bisa pula dipergunakan padanya (istilah) ada/wujud. Bukankah Anda tidak mengatakan: Allah mengeluarkan rasa dan aroma sebagaimana Anda mengatakan: Allah melakukan hal itu? ‘Ali bin ‘Isa berkata, “Al-fathir adalah orang yang mengerjakan sesuatu dengan mengadakannya sebagaimana dia membelah/mengeluarkannya.”

1635 - ุงู„ูุฑู‚ ุจูŠู† ุงู„ูุนู„ ูˆุงู„ุงุฎุชุฑุงุน : ุฃู† ุงู„ูุนู„ ุนุจุงุฑุฉ ุนู…ุง ูˆุฌุฏ ููŠ ุญุงู„ ูƒุงู† ู‚ุจู„ู‡ุง ู…ู‚ุฏูˆุฑุง ุณูˆุงุก ูƒุงู† ุนู† ุณุจุจ ุฃูˆ ู„ุง، ูˆุงู„ุงุฎุชุฑุงุน ู‡ูˆ ุงู„ุงูŠุฌุงุฏ ุนู† ุบูŠุฑ ุณุจุจ ูˆุฃุตู„ู‡ ููŠ ุงู„ุนุฑุจูŠุฉ ุงู„ู„ูŠู† ูˆุงู„ุณู‡ูˆู„ุฉ ููƒุฃู† ุงู„ู…ุฎุชุฑุน ู‚ุฏ ุณู‡ู„ ู„ู‡ ุงู„ูุนู„ ูุฃูˆุฌุฏู‡ ู…ู† ุบูŠุฑ ุณุจุจ ูŠุชูˆุตู„ ุจู‡ ุฅู„ูŠู‡.
Artinya: 1635 – Perbedaan antara al-fi’lu dan al-ikhtira’. Al-fi’lu adalah ungkapan yang menyatakan sesuatu yang didapati dalam suatu keadaan dimana sebelumnya hal itu telah diatur, baik berasal dari suatu sebab tertentu maupun tidak; sedangkan al-ikhtira’ adalah mengadakan sesuatu tanpa suatu sebab. Dalam bahasa Arab, al-ikhtira’ aslinya adalah lunak dan mudah/rata; maka seolah-olah pelaku al-ikhtira’ telah dimudahkan untuk melakukannya, sehingga dia bisa mewujudkannya tanpa sesuatu sebab yang dia jadikan pengantar kepadanya.

1817 - ุงู„ูุฑู‚ ุจูŠู† ุงู„ูƒุณุจ ูˆุงู„ุฎู„ู‚: ุฃู† ุงู„ูƒุณุจ ุงู„ูุนู„ ุงู„ุนุงุฆุฏ ุนู„ู‰ ูุงุนู„ู‡ ุจู†ูุน ุฃูˆ ุถุฑ، ูˆู‚ุงู„ ุจุนุถู‡ู… ุงู„ูƒุณุจ ู…ุง ูˆู‚ุน ุจู…ุฑุงุณ ูˆุนู„ุงุฌ، ูˆู‚ุงู„ ุขุฎุฑูˆู† ุงู„ูƒุณุจ ู…ุง ูุนู„ ุจุฌุงุฑุญุฉ ูˆู‡ูˆ ุงู„ุฌุฑุญ ูˆุจู‡ ุณู…ูŠุช ุฌูˆุงุฑุญ ุงู„ุงู†ุณุงู† ุฌูˆุงุฑุญ ูˆุณู…ูŠ ู…ุง ูŠุตุงุฏ ุจู‡ ุฌูˆุงุฑุญ ูˆูƒูˆุงุณุจ ูˆู„ู‡ุฐ ู„ุง ูŠูˆุตู ุงู„ู„ู‡ ุจุฃู†ู‡ ู…ูƒุชุณุจ ูˆุงู„ุงูƒุชุณุงุจ ูุนู„ ุงู„ู…ูƒุชุณุจ، ูˆุงู„ู…ูƒุชุณุจ ุฅุฐุง ูƒุงู† ู…ุตุฏุฑุง ูู‡ูˆ ูุนู„ ุงู„ู…ูƒุชุณุจ ูˆุฅุฐุง ู„ู… ูŠูƒู† ู…ุตุฏุฑุง ูู„ูŠุณ ุจูุนู„، ูŠู‚ุงู„ ุฅูƒุชุณุจ ุงู„ุฑุฌู„ ู…ุงู„ุง ูˆุนู‚ู„ุง ูˆุงูƒุชุณุจ ุซูˆุงุจุง ูˆุนู‚ุงุจุง، ูˆูŠูƒูˆู† ุจู…ุนู†ู‰ ุงู„ูุนู„ ููŠ ู‚ูˆู„ูƒ ุฅูƒุชุณุจ ุทุงุนุฉ، ูุญุฏ ุงู„ู…ูƒุชุณุจ ู‡ูˆ ุงู„ุฌุงุนู„ ู„ู„ุดุฆ ู…ูƒุชุณุจุง ู„ู‡ ุจุญุงุฏุซ ุฅู…ุง ุจู†ูุณู‡ ุฃูˆ ุบูŠุฑู‡ ูู…ูƒุชุณุจ ุงู„ุทุงุนุฉ ู‡ูˆ ุงู„ุฌุงุนู„ ู„ู‡ุง ู…ูƒุชุณุจุฉ ุจุฅุญุฏุงุซู‡ุง ูˆู…ูƒุชุณุจ ุงู„ู…ุงู„ ู‡ูˆ ุงู„ุฌุงุนู„ ู„ู‡ ู…ูƒุชุณุจุง ุจุฅุญุฏุงุซ ู…ุง ูŠู…ู„ูƒู‡ ุจู‡
Artinya: 1817 – Perbedaan antara al-kasbu (usaha) dan al-khalqu. Al-kasbu adalah perbuatan yang kembali kepada pelakunya sendiri, entah bermanfaat atau membahayakan. Sebagian orang mengatakan bahwa al-kasbu adalah apa yang terjadi melalui latihan dan perlakuan tertentu. Sebagian yang lain mengatakan bahwa al-kasbu adalah apa yang dilakukan dengan organ tubuh, dan dia itulah makna al-jarhu (luka). Dengan pengertian inilah organ tubuh manusia disebut sebagai al-jawarih, dan apa yang diperolehnya disebut dengan jawarih dan kawasib. Oleh karenanya pula Allah tidak disifati bahwa dia muktasib (berbuat dengan anggota badan). Al-iktisab adalah perbuatan dari orang yang melakukan kasab. Al-muktasab, jika bentuknya mashdar, maka dia adalah perbuatan dari orang yang melakukan kasab, tetapi jika bukan mashdar maka bukan perbuatan. Dikatakan iktasabar rajulu maalan wa ‘aqlan (seseorang mengusahakan harta dan kepandaian), dan iktasaba tsawaban wa ‘iqaban (dia mengusahakan pahala dan siksa). Kata itu bermakna perbuatan di dalam perkataanmu: iktasaba tha’atan (dia mengusahakan amal ketaatan). Maka, pengertian definitif dari al-muktasib (orang yang berusaha) adalah orang yang menjadikan sesuatu bisa diperoleh baginya dengan suatu perbuatan yang baru, baik dengan dirinya sendiri maupun orang lain. Maka, muktasib ketaatan adalah orang yang menjadikan ketaatan itu bisa dia peroleh dengan melakukannya, dan muktasib harta adalah orang yang menjadikan harta itu bisa dia peroleh dengan melakukan sesuatu yang bisa membuatnya memiliki harta itu.

Di internet, kamus ini dapat diunduh versi digitalnya dari situs Shaydul Fawa’id dan al-Misykat, dalam format MS Word. Untuk versi e-book, bisa juga diunduh dari tautan yang disertakan dalam situs Alukah (Al-Majlis Al-‘Ilmiy). Silakan kunjungi link-link yang kami sertakan berikut ini. Semoga bermanfaat.
1.      Format word, link: http://www.saaid.net/book/open.php?cat=90&book=1006
3.      Format e-book/aplikasi mandiri dan digital untuk Maktabah Syamilah, link: http://majles.alukah.net/showthread.php?t=37162
(Untuk format e-book, bisa langsung dibuka. Untuk format digital Maktabah Syamilah, harus diinstal dulu programnya)

Catatan: Contoh-contoh entri kata yang disitir disini sengaja kami kutip bersama teks asli Arab-nya, agar bisa dirujuk langsung. Selain itu, jika ada kekeliruan kami dalam membaca dan menerjemahkannya, maka lebih mudah untuk diperbaiki. Tegur sapa d`ri para pembaca akan diterima dengan senang hati. Wallahu a’lam bish-shawab. {am/11/12/1432}